Rambut saya pendek. YEAAAHHH!
Sebelumnya, mungkin bagi sebagian besar orang apa yang akan saya tuliskan disini merupakan perumitan dari sesuatu yang sebenarnya simpel; atau tulisan yang terlalu mendalam dari suatu hal yang sebenarnya dangkal. Yah, setiap orang berhak menilai, dan saya bisa menerima setiap respon yang mungkin keluar hahaha
Kali ini temanya rambut. Ya, RAMBUT.
Setelah kurang lebih 3 tahun menggunakan rambut panjang sebagai penghias kepala, beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk memulai hidup baru dengan rambut pendek. Sebenarnya ide ini tidak muncul begitu saja, atau secara spontan sebagai manifestasi kekecewaan terhadap sesuatu, atau karena habis putus cinta (yang terakhir ini asu hahaha). Bukan, bukan itu semua alasannya.
Well, saya adalah manusia yang cenderung anti-rutinitas, tidak suka sesuatu yang konvensional, tertarik pada hal-hal yang tidak biasa, menghargai kebebasan ekspresi, dan memegang teguh apa yang saya yakini benar. Everyone is unique as themselves, itu yang saya percaya. Saya tidak pernah takut untuk menjadi berbeda. Saya tidak pernah silau terhadap perbedaan dan perubahan. Dalam konteks ini, perbedaan yang paling mencolok adalah perbedaan yang bisa dilihat. (visual difference).Apalagi dengan pupuk dari SMA Kolese De Britto yang menjunjung tinggi kebebasan hakiki setiap orang, saya semakin mantap dengan konsep "berbeda secara visual" ini. Berada di sekolah yang mengizinkan siswanya memakai hak nya secara bebas dan bertanggung jawab untuk berambut panjang dan tidak memakai seragam, secara alamiah mengubah visualisasi diri kami. Rambut gondrong, jarang mandi, celana sobek, tatto, dan banyak hal yang membuat kami terlihat berbeda dari anak sebaya kami yang lain.
Saya, sebagai salah satu anak-yang-secara-visual-berbeda mulai mengalami krisis identitas. Dimana pada waktu itu, banyak pemikiran yang menuntut kami untuk tidak hanya terlihat berbeda. Kami harus bisa benar-benar berbeda (secara positif, tentunya). Orang yang secara visual bebeda mempunyai kekuatan untuk memberi kesan terhadap si penglihat. Saya masih ingat betul bagaimana ekspresi orang waktu pertama kali melihat saya (dengan rambut gondrong waktu itu). Hampir setiap orang akan memberi pandangan yang "Wow gondrong, keren. Anak sma beneran nih?" atau "Ih jijik banget sih rambutnya kaya benang kusut gitu." Berlawanan, tapi keduanya punya persamaan mendasar: kesan. Orang akan cenderung mudah terkesan (bisa positif/negatif) kepada mereka yang secara visual berbeda. Dan kesan ini adalah modal yang sangat berharga untuk bisa dikonversikan menjadi sebuah hubungan yang komunikatif sesudahnya. Sekedar ngobrol, mencari informasi, channeling, atau buat cari pacar juga bisa hahaha
Sebenarnya ini nggak fair ya..seseorang dilihat hanya karena secara visual ia berbeda. Seharusnya manusia bisa melihat lebih dalam daripada hanya sekedar visual atau fisik semata. Bahkan seringkali kita dicap dengan stigma negatif hanya karena ciri-ciri fisik. Rambut gondrong identik dengan kesemrawutan (katanya), nggak tau aturan (katanya), tatto identik dengan narkoba (katanya) dan masih banyak katanya katanya yang lain. But hate to say, damn it's true dude! We live with all that kind of shit hahaha. Hal ini masih buaaannyyyaaaakkkk sekali terjadi (dan akan tetap terjadi :p).
Intinya, 3 tahun saya jalani dengan rambut gondrong. Entah berapa ratus, ribu, atau bahkan jutaan kesan yang sudah tercipta dalam rentang waktu tersebut. Saya sudah terbiasa, atau bahkan sudah terlalu terbiasa dengan previlege ini. Bagaimana hal "membuat kesan" ini begitu mudah ketika kita secara visual berbeda.
Yak titik baliknya bermula di sini. Bosan.
Bukan bosan pada rambut panjangnya, tetapi kepada bagaimana orang melihat Haryo-yang-berambut-panjang. Saya merasa sudah cukup kaya dengan pengalaman memberi kesan kepada orang hanya karena rambut panjang. Seorang teman di kampus, sebut saja mawar, pernah berdiskusi dengan saya perihal physical appearence ini. Dia memaparkan analisa filosofis yang mencengangkan buat saya waktu itu. "Yo, rambut lo sampe nutupin mata, itu ada artinya. Artinya lo nggak bisa melihat dengan jelas. Lo nggak bisa lihat dengan jelas orang lain yang benar-benar ada buat lo. Rambut lo juga nutupin kuping. Itu artinya lo nggak bisa mendengarkan orang lain. Lo udah terlalu lama hidup sendiri. Lo udah terlalu banyak memutuskan sesuatu tanpa mendengarkan orang lain. Jangan terlalu idealis lah.." kata mawar kala itu.
Shit. Am I really looked like that? Saya tidak merasa seperti itu, tentu saja. Hello, ini cuma rambut, nggak ada hubungannya sama nggak pernah mendengarkan dan melihat orang lain. Sebenarnya ini agak diluar konteks, tapi saya ingin bercerita bagaimana pandangan orang terhadap ciri fisik saya waktu itu. Bukan obrolan itu juga yang mengantarkan saya ke tukang cukur dan merevolusi rambut. Tapi obrolan itu mengantarkan saya kepada sebuah perspektif yang berbeda dengan apa yang selama ini saya gunakan. Oh, ternyata ada juga orang yang berpikiran seperti itu.
Then I decided to bring this on to the next level: Arupadatu state.
Arupadatu merupakan bagian tertinggi dari Candi Borobudur, dimana areanya paling kecil dibandingkan 2 bagian dibawahnya (kamadatu dan rupadatu). Bagian arupadatu ini melambangkan tingkat tertinggi dalam kehidupan, dimana bentuk/visual tidak lagi menjadi variabel yang menentukan (a- tidak; rupa- bentuk; arupadatu - tidak berbentuk). Ehem, ini adalah pelajaran IPS kelas 3 SD yang masih benar-benar saya ingat dan pegang sebagai filosofi hidup sampai sekarang.
Yep, saya memutuskan untuk menaikkan abstraksi dalam konsep ini, ke tingkat yang lebih abstrak, tidak berbentuk.
"Hah? Maksud lo?" Okay this is how it's gonna work..
Secara visual berbeda ------------> bikin orang terkesan (wajar lah, diliat aja udah beda).
Secara visual sama ---------------> bikin orang terkesan (mmmmm yang ini mungkin lebih susah).
Dengan rambut pendek (secara visual sama dengan orang kebanyakan), membuat orang terkesan atau mempunyai kesan terhadap kita menjadi lebih susah ketimbang ketika secara visual kita berbeda.
Oke, nangkep. Terus?
Nah di sini serunya. Ketika secara visual sama seperti kebanyakan orang, berarti kita harus punyasesuatu yang lebih daripada mereka yang hanya-sekedar-terlihat-berbeda. Apa itu? Nah ini dia yang saya maksud dengan "abstrak" tadi. Kita harus punya sesuatu-tidak-terlihat yang bisa bikin orang terkesan. Bahasa gampangnya invisible thing, bahasa susahnya conceptual thing. Bisa jadi ide, pemikiran, atau gagasan.
Inilah yang sedang saya kerjakan sekarang. Untuk bisa terlihat sama, tetapi ternyata berbeda hahaha
Bagaimana kesan itu tetap bisa ada meskipun sekarang rambut saya pendek, rapi, dan terlihat sama seperti orang kebanyakan. Saya menganggap potong rambut kali ini merupakan revolusi pemikiran;rennaissance atau kelahiran kembali. Kelahiran pemikiran dengan tingkat abstraksi lebih tinggi, mendekati esensi hidup yang pada hakikatnya tidak mempunyai bentuk.
Jangan tertipu bentuk, karena yang terlihat tidak selalu seperti tampaknya.Visual is an obvious lie, look beyond what you see.
Depok, 26 November 2011
01.33
No comments:
Post a Comment