“Saya Pak Ngatimin..” Beliau berkata demikian seraya mengulurkan tangan keriputnya untuk berjabat tangan. Kuterima jabatan tangannya, dan kami berjalan menuju ke rumahnya. Kuperhatikan Pak Ngatimin, pria paruh baya yang kelihatan masih sangat kuat di usianya. Ia tidak memakai alas kaki, padahal jalan setapak di dusun jambusari ini penuh dengan bebatuan. Sudah terbiasa, katanya. Memang, kebiasaan bisa merubah seseorang, dan tergantung bagaimana membiasakan diri untuk membawa perubahan kebiasaan kita ke arah yang positif.
Songbledeg sebenarnya adalah nama kelurahan, yang terdiri dari 2 desa : Jambusari dan Weru. Aku mendapat jatah merasakan tinggal di desa Jambusari.
Masyarakat desa Jambusari adalah masyarakat agraris. Hampir semuanya bermata penceharian sebagai petani. Mereka memiliki ladang, yang secara turun-temurun diwariskan. Tanaman pokok yang ditanam adalah padi, ketela dan jagung. Corak geografis berupa batuan gamping yang berbukit-bukit membuat masyarakat di sana terbiasa bercocok tanam di atas bukit.
Di desa Jambusari tidak ada anak remaja, karena biasanya setelah lulus smp, mereka langsung merantau ke kota Solo atau Jogja. Yang tinggal di sana hanyalah anak kecil dan oramg tua saja.
Seperti kebanyakan masyarakat desa pada umumnya, mereka sangat menekankan rasa kekeluargaan dan gotong royong. Setiap musim panen tiba, semua warga bergotong royong memanen hasil secara bergiliran, dari satu ladang ke ladang lain.
Keramahan juga sangat tampak dari kehidupan warga desa Jambusari. Semua saling mengenal satu sama lain, bahkan meskipun jarak rumahnya sangat jauh.
Masih tak percaya rasanya waktu itu, berada di desa yang jauh, dalam sebuah acara sekolah yang diluar dugaanku sebelumnya. Tadinya kuanggap live-in sebagai sebuah kegiatan yang pasti akan terlalui, dengan atau tanpa usaha yang berarti. Live-in seperti sebuah sandiwara, dimana aku akan bermain peran di dalamnya. Aku hanya perlu membawa diri, seolah-olah menjadi anak Pak Ngatimin, warga desa Jambusari.
Tetapi semua berbeda. Ternyata di sana, aku tidak seolah-olah mandi dengan air hujan, di kamar mandi yang lebih terbuka daripada kamar tidur. Aku tidak seolah-olah mendorong mobil pickup berisi 30 orang untuk bisa melewati tanjakan dan sampai ke pasar yang jauhnya 15 km. Aku tidak seolah-olah berinteraksi dengan warga desa lain. Aku tidak seolah-olah pergi ke ladang dengan berjalan menaiki bukit. Ini bukan sandiwara ! Memang inilah kehidupan masyarakat di sana. Dan melalui live-in, aku tidak bisa hanya “seolah-olah” menjadi anak Pak Ngatimin, warga desa Jambusari. Aku harus menjadi anak Pak Ngatimin, dan menjadi bagian dari Desa Jambusari itu sendiri.
Di sana, aku mengenal yang namanya rasa syukur. Bagaimana mensyukuri keadaan yang sulit untuk disyukuri. Tidak ada air, menampung air hujan untuk mandi dan mencuci. Gagal panen, tetap gotong royong untuk membantu warga lain yang masih bisa panen. Jauh dari pasar, harus menempuh jarak 15 km dengan kendaraan yang memuat beban jauh melebihi kapasitasnya, dan harus turun untuk mendorong di setiap tanjakan untuk bisa sampai ke pasar. Untuk bisa sekedar menjual hasil panen yang sebenarnya tidak seberapa. Di sini aku berpikir, ketika aku merasa tidak nyaman berada dalam situasi semacam ini, bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan mereka yang mengalami ini 3 hari sekali? Aku membayangkan kejenuhan dan keletihan yang teramat sangat. Tapi setelah melihat sekitar, aku tidak melihat raut wajah mengeluh. Yang ada adalah wajah gembira. Gembira karena inilah kesempatan menjual hasil jerih payah dan tetes keringat mereka. Meskipun harus melewati “jalan” yang tidak mudah, mereka begitu mensyukurinya. Inilah yang namanya rasa syukur. Mudah untuk bersyukur ketika kita dimudahkan dalam berbagai hal, tetapi bersyukur dalam keadaan sulit, jauh lebih bernilai rasanya.
Ketika semuanya berakhir, aku masih ingat betul keramahan mereka. Bagaimana semua orang tua kami mengantar ke desa sebelah, untuk berkumpul dan pulang. Aku masih ingat suasana itu. Suasana haru saat kami menempelkan kepalan tangan kami di dada dan bernyanyi mars. Semua orang tua kami menangis. Dan aku yakin itu tangisan yang tulus, sebagai bapak dan ibu. 4 hari merupakan waktu yang sangat singkat. Dan sesingkat itu pula mereka bisa menerima kami. Sebagai anak, sebagai warga desa, sebagai tetangga, sabagai teman bermain, sebagai manusia utuh, karena mereka tidak memandang apa warna kulit kami, atau kekayaan dan pangkat orang tua kami. Mereka benar-benar menerima kami apa adanya.
Dan akhirnya semua pergulatan batinku bermuara pada sebuah nilai kehidupan. Mungkin banyak orang menganggap hidup kita lebih beruntung daripada masyarakat pedesaan. Tapi menurutku, mereka lebih beruntung. Karena dengan merasakan apa yang mereka rasakan, aku bisa melihat banyak hal yang tidak bisa kulihat sebelumnya. Setelah kudalami, aku tidak ingin semua ini menguap begitu saja. Aku ingin apa yang aku dapatkan, bisa menjadi bekal perjalanan hidupku, sampai selamanya.
Wonogiri, 30 Januari 2010
No comments:
Post a Comment