Sunday, March 11, 2012

Persimpangan


ketika itu, aku berjalan sendiri. kecil langkahku. sejengkal demi sejengkal.
hening. terlalu hening untuk jalanan selebar ini.
dimana? sebuah persimpangan.
sebuah persimpangan yang sepi dalam keramaian.
papan penunjuknya tertutup debu tebal. tulisannya tidak bisa dibaca.

kulihat kekiri,
mata kecilku berkedip. silau.
banyak daun berguguran. kuning, hijau, biru, merah.
tak ada tanda kehidupan disana.
hanya suara angin yang menyelinap diantara ranting pepohonan Ara.
dingin.

kulihat kekanan,
banyak orang berlarian disana.
aku tak tahu pasti apa yang mereka genggam, tapi tampaknya mereka bahagia.
aku juga ingin bahagia.
aku ingin orang lain juga bahagia karena aku bahagia.
masih dingin.

kulihat kebelakang,
mereka menangis. aku tidak tahu apa yang mereka tangisi.
aku tidak tahu itu airmata bahagia atau kesedihan.
ada seorang wanita. ia juga menangis.
aku seperti pernah mengenalnya.
tapi aku tidak ingat pernah mengenalnya.
tatapan mata itu.
bukan, bukan kesedihan. itu pengharapan.
dingin, jauh lebih dingin.

kulihat kedepan,
kosong. titik hitam berpendar.
jalan itu masih samar. ia menyamar.
mana yang benar?
tidak tahu. aku tidak tahu benar itu apa.
yang kutahu, benar itu tak berujung.
jalan tak berujung? ada di depanku.
dingin.



apa itu dingin?

          ***

ketika itu, aku berjalan sendiri. kecil langkahku. sejengkal demi sejengkal.
hening. terlalu hening untuk jalanan selebar ini.
dimana? sebuah persimpangan.
sebuah persimpangan yang sepi dalam keramaian.
papan penunjuknya.
debunya.
samar-samar ditiup angin.
"masa depan", katanya.


dalam keheningan, 4 Juli 2011
00.53

No comments:

Post a Comment