Showing posts with label nonfiksi. Show all posts
Showing posts with label nonfiksi. Show all posts

Sunday, December 17, 2023

Hikayat Rajah

Dalam lifeline sharing yang pernah aku tulis, tema besar hidupku ada tiga: Ekonomi, Kebebasan & Keberagaman, dan Musik & Games. Tapi sejatinya, dari tiga ini, yang nomor dua merupakan yang pertama dan terutama. Spesifiknya, tentang agama.

Mungkin orang yang mengenalku baik (dan sudah lama), tahu betul tentang ini. Sudah sering kuceritakan juga dalam berbagai forum dan kesempatan (anjay sipaling forum), jadi tidak akan kutulis detail di sini. Intinya, aku sangat merasa relate dengan tema keberagaman agama, toleransi antar umatnya, pernikahan beda agama, dst dst. Mungkin sampai bisa sebegitunya karena topik ini yang sangat sering menjadi isu dalam kehidupan sosial sehari-hari. Padahal buatku, agama pada hakikatnya adalah ajaran baik yang dapat mempersatukan perbedaan, bukan pemisah dan pemecah-belah.

*

Sekitar tahun 2009, kelas 2 SMA, aku mulai mengenal beberapa teman yang bertato. Menurutku keren, apalagi kalau gambar atau tulisannya berkaitan dengan prinsip hidup yang kita pegang teguh. Disclaimer dulu biar ga diserang buzzer: semua kalimat yang tertulis di sini adalah opini pribadi subyektif yang berlaku dalam pandangan dan caraku melihat dunia sampai saat ini. Jadi kalo ada yg punya pendapat lain, sah-sah saja dan mungkin itu baik menurut mereka.

Nah dari kelas 2 SMA itu, aku sudah punya keinginan untuk punya tato. Cukup spesifik pula: full sleeve di tangan kiri. Gambarnya Buddha duduk di teratai, belakangnya ada gapura yg biasa ada di pura, di atasnya ada bulan bintang, dan ada rosario yang melingkari mereka. Sisanya belum kepikiran waktu itu, tapi yang pasti akan berkaitan dengan lambang-lambang agama dan kepercayaan yang ada di dunia.

Waktu berlalu, hidup terus berjalan. Aku tidak pernah memikirkannya secara serius, tapi keinginan untuk tato ini tetap ada di kepalaku. sekitar tahun 2014, aku pernah meminta kawanku Beni si bos kecil untuk menggambar sketsa sesuai yang aku bayangkan. Dia menggambar di kertas memakai pensil. Sayang gambar itu tak terlacak di mana sekarang (tidak sempat difoto pula).

*

update: ternyata ada gambarnya, aku post di twitter tahun 2013

Hidup kembali berjalan. Dari Jogja, ke Depok untuk kuliah. Lalu tak terasa, hidup membawaku ke Jakarta untuk menetap lebih lama dan bekerja di sana. Mulai bisa cari uang sendiri. Bisa menabung. Hal yang tidak pernah terjadi selama hidupku sebelum itu. Aku mencari tattoo artist yang menurutku bagus. Dan gambar yang bagus menjadi causa prima dari tato yang aku ingin buat. Alasan pertama dan terutama. Aku mendapatkan referensi dari kawan, sebuah tato studio di Kemayoran bernama @twinmonkeytattoostudio. Seketika jatuh cinta dengan karya-karya @adithsetya. Blackwork, artstyle nya didominasi garis-garis tebal dan pekat. Aku memang suka tipe tato yang gambarnya besar, banyak blok-blok hitam. Tampan dan berani. Singkat cerita, 2022 bulan April, didorong impulsifitas pandemi (coba angkat tangan yang pernah mengambil keputusan besar dalam tempo sesingkat-singkatnya pada waktu pandemi -yang mungkin kalau kondisi normal tanpa pandemi, kalian ga akan ambil), aku chat WA Twin Monkey. Ternyata flow nya adalah, kita chat dengan managernya dulu, cerita tentang konsep tato kita (letaknya di mana, gambarnya apa, seberapa besar, dll). Lalu dia akan mengarahkan ke tattoo artist yang sesuai dengan konsep yang kita usung. Aku yang awam langsung menceritakan konsep dan bilang kalau pengennya ditato oleh Adith. 

"Oh kalo Adith maunya cuma Japanese blackwork aja bro, kalo konsep lo bisa ke Nick atau Dyra," kata sang manager.

 Oh oke..... batinku dalam hati. Keren juga ni tempat. Cukup idealis. Justru malah semakin align rasanya mendengar jawaban seperti itu. Segeralah aku mengintip ig @nickfilbert untuk memilih gambar referensi. Wah keren juga, style nya sesuai dengan yang aku mau. Ternyata beliau juga adalah ilustrator design sampul buku Harry Potter yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ketika scrolling ig nya, ada satu gambar Bunda Maria yang menarik perhatianku. Tidak persis sama dengan konsepku, tapi rasanya cukup menggambarkan, karena itu gambar portrait Bunda Maria yang dibalut dengan ornamentasi yang keren. Setelah memilih gambar referensi, Riva sang manager ini menyebutkan perkiraan berapa jam total pengerjaan dan estimasi biaya, lalu akan membuat walk in appointment untuk konsultasi langsung dengan tattoo artistnya. Harus datang langsung, gabisa zoom. Aku mengiyakan untuk datang seminggu setelahnya untuk berkonsultasi dengan Nick. Konsultasi hanya berlangsung sekitar 15 menit, diantara sesi yang sedang dikerjakan oleh para artist. Meski cuma ngobrol sebentar, I knew Nick was the right guy from the start

"Gw suka banget bro sama konsep lo, menurut gw idenya keren banget."

Aku jadi tahu kenapa proses konsultasi dengan datang langsung ini begitu penting buat mereka. Karena relasinya juga harus oke. Ini tentang keputusan hidup yang akan dibawa mati. Nick melihat lengan kiriku, coret-coret sedikit dengan spidol untuk membayangkan layoutnya. Aku menambahkan satu frasa tulisan jawa dalam konsepku:

ꦯꦺꦗꦠꦶꦤꦺꦌꦱ

Sejatine Esa

Nick bertanya, "ini artinya apa bro?" setelah kujelaskan, dia makin semangat. "Wah keren banget, nanti gw bikinin sketsanya, lo akan liat hari H ya." Jadi ternyata kita hanya akan lihat gambarnya pada hari H, bisa revisi minor di tempat. Karena aku baru pertama kali tato, Nick juga menjelaskan do & dont's nya: H-1 harus tidur cukup, no alkohol karena akan mengencerkan darah dan berpotensi membuat bleeding sehingga tinta tato akan susah masuk. Stamina juga harus fit, karena kurang lebih aku harus menahan rasa sakit selama sekitar 7 jam tiap sesinya. Oke baik. Mendengar ini agak takut tapi keinginan untuk tato mengalahkan rasa takut itu.

Selesai konsultasi, Riva menjelaskan, next step nya adalah transfer booking fee untuk mengunci tanggal tato. Karena durasi total tatoku maksimal 14 jam, jadwalnya akan dibagi 2 sesi. Dia menyebutkan tanggal di akhir Agustus dan awal September untuk sesi keduanya. Selisih 2 minggu. Aku mengiyakan dan segera transfer booking fee. Sebenarnya agak kecewa karena ternyata waiting list nya selama itu. Waktu yang cukup lama untuk membuat kita berpikir ulang dan mlintir. Hahaha. 

Sampai akhirnya waktunya tiba.

*

Akhir Agustus 2022, aku datang siang ditemani oleh kawanku Beni si bos kecil dan Jati, yang selain karena excited ada temannya yang akan tato, juga untuk jaga-jaga kalau aku pingsan. For context: aku takut jarum dan darah. Waktu kuliah pernah iseng donor darah sehabis kelas siang karena mengincar snack dan susu, tapi malah pandangan menyempit dan hampir pingsan (malah ngrepotin susternya wkwk). Begitu datang, kami makan dulu untuk mengisi perut. Studio tato mereka bentuknya ruko, dan di lantai dasarnya ada warung bakmi. Bakmi babi enak bgt kacau.


Setelah makan, kami naik ke lantai 3 tempat studionya berada. Nick datang dan menunjukkan stensil dan respon pertamaku dalam hati "wow gede banget yh ternyata.." tapi keren banget parah. Dia lalu mengukurnya ke lengan kiriku, lalu menyiapkan alat2nya. Ternyata tatoku terdiri dari 2 stensil berbeda. Gambar Buddha di bawah untuk lengan bagian luar yang akan dikerjakan di hari ini, lalu salib dan rosario untuk lengan dalam yang akan dikerjakan di sesi 2 nanti.

OG stencil

Selama ini aku banyak bertanya ke orang-orang yang tatoan: "Sakit ga sih tato?" dan kebanyakan dari mereka bilang sakit, tapi pain tolerance orang beda-beda. Tapi susah dijelaskan juga sih sakitnya seperti apa. Dan benar, you don't know how, until the needle finally meet your skin. Beruntungnya buatku, ternyata sakitnya sangat manageable (lengan dalam beda cerita ya, apalagi deket ketiak. ngilu bayanginnya). Nick yang sudah kuceritakan disclaimerku memastikan sesaat setelah garis pertama diselesaikan.

"Gimana Yok, aman ya?"

"Aman banget," sahutku.

Dimulailah perjalanan panjang hari itu -yang surprisingly tidak terasa selama itu. Kami menghabiskan waktu sambil ngobrol. Nick bertanya padaku, kenapa konsepnya bisa gini, aku punya cerita apa. Setelah kuceritakan, ternyata dia bisa relate dengan itu. Ia juga menceritakan background hidupnya, yang tadinya adalah seorang ilustrator, lalu berpindah haluan menjadi tattoo artist. Tentang keresahannya bahwa banyak orang sekarang bertato hanya karena fomo. Serta bagaimana susahnya mencari aprentice yang suka menggambar tapi belum pernah menyentuh alat tato. Katanya kalau orang sudah pernah nato, banyak yang kemudian berhenti untuk studying the craft itself. Kalo udah gambar di kulit, gamau lagi gambar di kertas. Padahal menurut mereka, kulit hanyalah medium saja. Craftmanship nya harus terus diasah. Aku jadi makin kagum. Proses apprenticeship di Twin Monkey seserius itu, untuk bisa meneruskan value yang mereka percaya sebagai artist.

Tidak terasa 6 jam sudah berlalu, dan Nick menyudahi sesi pertama ini. Sisanya dia hanya memberi outline untuk kemudian diselesaikan di sesi kedua nanti. Bagaimana keadaanku? surprisingly baik-baik saja. Malah agak tidak rela bahwa sesi pertama disudahi di sini. Hahaha. Super excited. Tidak sabar untuk datang ke sini 2 minggu lagi.

*

Satu detil penting yang kulupakan adalah pose tangan sang Buddha. Nick tau-tau come up dengan pose itu dan aku lupa untuk riset dulu. Apa artinya? Adakah pose tangan Buddha yang lain, yang mungkin lebih relate secara filosofis dengan konsepku? Semuanya terkalahkan oleh excitement tato pertama. Hahaha.



Tapi untungnya, semesta memang selalu punya cara. Malamnya aku googling, ternyata pose ini namanya vitarka mudra. Pose that simbolize debate & discussion. Juga melambangkan infinite flow of information, dan bagaimana Buddha menyampaikan ajarannya. Pose ini merupakan salah satu pose yang paling populer ketika Buddha digambarkan.

BEST. Ga ada yang lebih pas buatku daripada pose ini.





hasil sesi 1

2 minggu berlalu, hari yang dinanti pun kembali tiba. Kali ini aku datang sendiri. Kami start lebih awal sekitar jam 11.30 untuk memastikan bahwa keseluruhan project bisa selesai hari ini juga. Tanpa basa-basi kami langsung ambil posisi dan mesin tato segera dinyalakan. Kali ini total 8 jam. Yang berbeda adalah, seperti yang kuceritakan di atas, sesi 2 ini mengerjakan lengan dalam, yang ternyata JAUH LEBIH SAKIT daripada lengan luar. Katanya karena kulit di lengan dalam lapisannya lebih tipis daripada yang luar. Apalagi yang dekat ketiak, itu benar-benar seperti diiris pisau. Perih bro. Masuk jam kelima, Nick berkata,

"wah berdarah bro."

Aku diam sebentar sebelum menyahut, udah takut disuruh pulang dan nunggu 4 bulan lagi untuk menyelesaikan T.T

Tapi dia bilang oke kalau aku oke, dan akhirnya proses tetap dilanjutkan. The last 2 hours was surreal for me. Capek, sakit, kesemutan di sana-sini karena ngga gerak selama 8 jam. Nick pun sama. Lebih berat bahkan, karena dia pake mikir. Dan bertanggung jawab sama hasilnya nanti.

But we push through.

first selfie with completed half-sleeve

Jam menunjukkan sekitar 9 malam. Kami adalah orang terakhir yang tersisa di studio. Masih ingat persis perasaan saat mengambil foto di atas. KEREN BANGET. Merasa menjadi orang paling keren di dunia. Setelah menyelesaikan administrasi dan mengucapkan terima kasih ke Nick, akupun pulang dengan hati yang penuh. Akhirnya gambar yang kurang lebih 13 tahun ada di kepalaku, sekarang ada di tanganku. Dalam bentuk terbaiknya.

*

Satu hal yang harus kuceritakan di sini juga adalah: proses recovery. Ternyata dalam hal ini, aku tipe orang yang kuat di eksekusi, tapi lemah di recovery. Jadi proses tato itu kan melukai kulit ya. Analoginya yang diceritakan Nick padaku di awal adalah seperti kalau kita kecelakaan motor. Bisa jadi lukanya hanya lecet, tapi karena badan kita trauma, kemudian sakit sebadan. Bisa meriang juga. Lecetnya nanti jadi koreng, lalu setelah kulitnya mengelupas, baru akan sembuh. Nah tato persis seperti itu. Pegal-pegal dan meriang itu adalah mekanisme tubuh untuk memproses trauma yang mereka alami. Kasusku, malam pertama setelah tato aku meriang. Mungkin karena ini tato pertama tapi sebesar itu, jadi badanku mungkin "kaget" menerima luka sebesar itu tiba-tiba.

fresh blood from session 2


Setelah fase sakit dan meriang ini timbullah hal paling menyiksa dari keseluruhan proses ini. Proses tato yang jadi koreng lalu mengelupas itu gatel bangetttttt. Parah. Tanganmu kayak disemutin bro. Gatelnya itu aktif. Apalagi malem sebelum tidur. Dan yang lebih memperumit keadaan adalah: ga boleh digaruk, karena kalau dia mengelupas sebelum waktunya, bisa jadi tintanya ikut keluar dan gambarnya rusak. Jadilah fase ini kunobatkan sebagai 2 minggu tergatel dalam hidupku. Sering kali aku terbangun di tengah malam karena rasa gatal yang teramat sangat.

proses recovery, liat gambarnya aja gatel

*

Setelah semua proses itu dilewati, baru benar-benar puas. Tato ternyata memaksaku untuk "berkenalan" dengan tubuhku sendiri. Seberapa jauh batas sakit yang bisa diterima, sampai pada proses pemulihannya.

Vitarka mudra ternyata juga menjadi konsep sentral yang sangat berarti buatku. Karena salah satu alasan aku ingin tato dengan gambar seperti ini, supaya ia bisa berfungsi sebagai discussion trigger. Aku sangat senang ngobrol dengan orang membicarakan tema-tema seperti ini (religiusitas, keberagaman agama, toleransi). Tapi aku sadar, tidak semua orang bisa diajak berbicara topik seperti ini. Dengan adanya tato ini, seringkali orang yang melihat akan tertarik dan kemudian bertanya "eh itu tato apa? bagus deh" and the rest is history.

Satu hal lagi, meski banyak orang di circle terdekatku juga radikal tentang tema-tema ini, tapi aku tetap tidak merasa ada orang yang ada di titik keresahan yang sama denganku. Jadi seringkali di tengah keluarga, sahabat, pacar, aku tetap merasa sendiri.

"ngapain sih sengotot itu."

"hidup jangan seideal itu lah brodi, capek."

..dan banyak kalimat lain yang seringkali membuatku merasa sendirian.

And to be honest, sometimes being lonely is.. sucks.

Tapi bukankah itulah definisi iman yang sebenar-benarnya? Ketika kamu bisa tetap berpegang teguh pada hal yang kamu yakini benar. To be able to hold your stance, even when the whole world is against you.

Now that I have this, I feel like I'm not alone anymore.



Jakarta, 17 Desember 2023
13.59 






Saturday, April 1, 2023

Ihwal Perjalanan Spiritual

Namanya Elok Satiti. Sungguh nama yang sampai kini, menurutku unik dan kuat. Elok artinya bagus, satiti artinya cermat. Bahasa Jawa sederhana yang kadang luput dari ingatan. Setelah menikah dengan I Gusti Made Susrama, tersematlah nama Susrama di belakangnya. Elok Satiti Susrama. Eyang, aku biasa memanggilnya. Ia tinggal seorang diri di Jember, Jawa Timur. Kelahiran tahun 1934, samar-samar aku ingat bagaimana eyang bercerita tentang bagaimana ia membantu pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia melawan tentara Jepang dengan menjadi kurir. Ia akan membawa amunisi, makanan, obat-obatan kepada para gerilyawan masa itu. "Anak kecil lebih tidak dicurigai", katanya. 

4 hal yang eyang sekali: menulis, menyanyi, tanaman dan anjing. Ini yang menghiasi hidup seorang dirinya di Jember sepeninggal pekak (kakek) yang meninggal tahun 1991. Ketiga anaknya merantau: yang tertua di Bekasi, kedua dan ketiga di Yogyakarta. Berulangkali eyang mau diboyong ke Yogyakarta supaya lebih dekat dengan kedua anaknya. Namun ia kekeuh menolak. "Rumahku di Jember. Kalau mau, kalian yang ke sini, bukan aku yang ke sana", katanya. Keras kepala memang orangnya, tapi itulah salah satu keelokan eyang. Dia orang tua independen yang punya hidupnya sendiri. Dia suka menulis, tentang apapun. Kadang berkirim surat dengan anak-anaknya untuk bercerita tentang apapun dan menanyakan kabar. Ia melatih koor di GKI Jember, dan aktif dalam pelayanan gereja. Rumahnya penuh dengan tanaman dan anjing. Aku ingat betul ketika sendiri berkunjung ke sana sekitar umur SD, aku ditidurkan di atas lemari karena lantai penuh anjing. Puluhan jumlahnya. Semuanya anjing kampung yang akupun tidak tau asal usulnya.  Menggonggong setiap ada orang tidak dikenal. Jadilah selama aku di sana, setiap masuk dan keluar rumah akan digendong oleh eyang supaya aku tidak digigit oleh anjing-anjing ini. Hanya 2 nama yang masih aku ingat dari mereka: Papa Cikona dan Mama Metinda. Ciko dan Meti singkatnya. Mereka inilah yang menemani dan menjaga eyang di Jember. Jadi bisa dibayangkan, dengan semua hal itu, betapa penuh dan sibuknya hidup eyang, bahkan di masa senjanya.

*

Eyang berasal dari keluarga Kristen yang taat. Lalu hidup mempertemukannya dengan pekak, seorang anak Pedanda (pemuka agama Hindu) dari Bali, kemudian memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Pekak meninggal tahun 1991, sedangkan aku lahir tahun 1992, jadi aku tidak kenal dengan beliau, kecuali lewat cerita-cerita dari eyang, ibu atau bapak. Tapi yang aku tahu, pekak tetap memeluk Hindu, sampai menjelang akhir usianya, ia meminta untuk dibaptis menjadi seorang Kristen. Tentu untuk seorang anak Pedanda menikah dengan orang Kristen, banyak masalah yang terjadi. Pekak mendapat sanksi adat dari keluarga, diputus tali silaturahminya. Mungkin bahasa sekarangnya adalah dicoret dari KK. Tapi ia tekun pada pilihan hidupnya, sampai akhir hayatnya.

Jadi dalam hal ini, eyang sudah melalui satu babak mayor tentang spiritualitas ketika ia menikah dengan pekak.

*

Waktu aku kecil, sekitar usia SD, kadang eyang akan datang berkunjung ke Yogyakarta untuk menengok kami. Ia akan naik kereta ekonomi Sritanjung dari Jember ke Yogya. Momen ini di satu sisi akan kunantikan, karena mengobrol dengan eyang itu mengasyikkan. Tapi di sisi lain, aku tahu persis ia akan menjadi polisi di hari Minggu pagi, untuk memaksaku pergi sekolah minggu di gereja. Sementara seperti anak lain seusiaku, tentu Minggu pagi adalah jadwal yang padat untuk kami. 6.30 pagi Let's n Go, jam 7 Chibi Maruko Chan di RCTI, lalu 7.30 ada Digimon di Indosiar dan terus berlanjut sampai siang hari. Tentunya ini adalah hal yang tidak bisa kulewatkan. Jadilah hari Minggu pagi setiap ada eyang di rumah, aku akan merengek atau menangis supaya tetap bisa di rumah menonton kartun favoritku. Tapi ia sangat otoriter. Sekolah minggu adalah wajib. Menangis pun aku akan diseret untuk pergi ke gereja. Bahkan sekali-dua kali, aku ingat eyang memarahi ibu karena tidak memaksaku ke gereja di hari Minggu.

Bapak adalah seorang muslim, tapi memang ia berkomitmen untuk menjaga dan mengantarkan anak-anaknya untuk ikut ibu menjadi seorang Kristen. Ia tidak setia pada ritual keagamaannya, tapi aku tahu persis imannya ada di sana. Jadi di rumah memang dinamikanya sangat beragam. Di hari minggu biasa ketika tidak ada eyang, hidupku lebih tentram. Bapak dan ibu sangat santai. Lebih bisa diajak kompromi untuk nonton kartun daripada ke gereja.

Tentang perbedaan ini di rumah, juga menjadi dinamika yang menarik ketika eyang berkunjung. Masih kisaran umur SD, aku ingat betul, ia sering melontarkan kalimat "kalau di Kristen" atau kata "Kekristenan" pada topik-topik yang kami bahas. Seringkali menimpali bapak, yang Islam dan cukup nyeleneh pandangannya. Seringkali mereka berdebat dan saling olok (seperti anak-anak yang "berantem" dengan teman sebayanya) tentang ini. Dalam topik-topik tertentu, bapak akan menyindir "Kalo di Kekristenan gimana, yang.." lalu seperti minyak yang disulut korek api, ia akan memberi kuliah 3 SKS tentang topik tersebut dari perspektif Kristen. Truly a preacher at that time.

*

Sekitar 12 tahun kemudian, hidup membawaku untuk kuliah di Jurusan Filsafat, sebuah bidang studi yang penuh stigma di Indonesia, tanpa orang benar-benar tahu, ia sebenarnya apa. Waktu itu eyang sangat support, karena ia tahu banyak pemikir besar lahir dari rahim ilmu filsafat. Terlebih lagi aku akan kuliah di universitas favorit di Indonesia yang mengharuskanku merantau dari Yogyakarta. Sekitar semester 5, aku berkesempatan untuk menghabiskan masa liburanku di Jember. Kali ini naik kereta bersama teman-teman SMA ku yang akan backpacking ke Bali via kereta dan ferry. Kami berangkat bersama-sama, tapi aku turun di Jember sementara mereka akan melanjutkan perjalanan dengan kereta yang sama sampai ke Banyuwangi, kota paling timur di pulau Jawa. Kurang lebih 2 minggu aku mengunjungi eyang kali ini. Aku lupa kapan terakhir kali aku bertemu dengannya, tapi rasanya tahunan. Ia masih seperti eyang yang dulu, hanya saja sudah lebih sepuh. Masih kuat untuk berjalan kaki ke mana-mana dengan topi tentaranya, tapi tidak sejauh dulu. Masih kenal dengan semua tukang becak seantero jember, yang semua memanggilnya dengan sebutan oma. Ia menjemputku dengan becak, dan memperkenalkanku tengan Pak Becak tersebut yang aku lupa namanya. Lalu sepanjang perjalanan mereka ngobrol dengan bahasa Madura yang tidak kumengerti. Tapi rasanya ia menjelaskan asal-usul dan silsilah keluargaku. Dari stasiun kami mampir ke pujasera di dekat sana (hal yang selalu kami lakukan setiap sampai di Jember), lalu kami makan, baru pulang ke rumah.

Sampai di rumah, eyang tidak menyuruhku untuk tidur di atas lemari seperti waktu SD dulu, tapi ia sudah menyiapkan kamar untukku. Kamar ini letaknya di depan, terpisah dari rumah utama yang menjadi ruang hidup eyang sehari-hari. Ia menyebutnya "kamar tamu". Kamar ini pengap (tentu, karena tidak pernah dihuni dan dibersihkan), diisi oleh 1 kasur kapuk ukuran single dan tv jadul, dan yang langsung menarik perhatianku adalah: kamar ini penuh dengan buku yang ditumpuk berserakan di lantainya. Ada yang diletakkan dalam box, ada yang ditumpuk begitu saja. Intisari, National Geographic, buku sastra, buku berbahasa Jerman dan Belanda yang kertasnya sudah kuning, dan banyak jenis buku-buku lain ada di sana. Katanya ia sedang beberes. Tahu aku akan datang, ia sengaja membiarkan buku-buku itu ada di sana, barangkali aku suka dan ingin membaca. Ruangan ini menjadi tempat utama perjalananku di Jember waktu itu.

Malam harinya, kami mengobrol. Ini adalah pertemuan pertama kami semenjak aku berkuliah di Jurusan Filsafat. Aku menemukan harta karun berupa buku berjudul "Religions of the World", bersampul merah, bahasa Inggris bukan terjemahan. Seketika itu aku langsung berkata ke eyang, "Yang ini buat aku ya, tak bawa pulang".



Ia sumringah, tentu saja memperbolehkan, dan menunjukkan beberapa koleksinya yang lain. "Jadi gimana kuliah filsafat?" tanyanya. Tentu sebagai mahasiswa filsafat semester 5, aku sudah tahu obrolan apa yang akan kulalui, terutama berhadapan dengan orangtua religius yang memegang teguh prinsip keimanannya. Kami ngobrol ngalor ngidul selama beberapa waktu, hingga akhirnya sampai pada kalimat magnum opus: "Yok, tapi bukannya orang filsafat itu ngga percaya Tuhan ya?" sambil menatap mataku dalam, sambil tersenyum. Berhadapan dengan dia, aku tahu betul pertanyaan macam apa ini. Sangat berbeda konteksnya dengan orang random yang melontarkan pertanyaan yang sama. Itu adalah salah satu momen dalam hidupku yang sampai kini aku masih ingat betul rasanya.

Tentu aku jawab, tapi biarlah hanya kami bertiga yang tahu. Yang jelas, kami ngobrol sampai larut malam itu. 

"Kamu udah belajar Marx?" tanyanya.

"Di kelas belum ketemu, yang, tapi aku suka banget topik itu, jadi sudah sering baca-baca sendiri".

Aku sangat suka topik tentang politik dan ideologi sejak SMA, jadi obrolan ini terasa begitu menyenangkan dan mengalir begitu saja. Kami menemukan sebuah kertas yang menyerupai kartu. Kata eyang, ini adalah kartu kereta milik pekak. Pekak adalah anggota MPR jaman Soekarno, dan di masa itu, salah satu fasilitas yang didapatkan sebagai anggota MPR adalah gratis bepergian menggunakan kereta. Petugas nanti hanya tinggal menulis data perjalanannya di kartu ini. Kartunya sudah berwarna kuning, ada tulisan huruf latin yang tintanya sudah mbleber ke mana-mana karena usia. Ia menceritakan pula bagaimana peristiwa 1965 begitu dekat dengan hidupnya waktu itu. Katanya, pekak punya foto dia satu frame dengan Mao di sebuah rapat MPR. Waktu sedang panas-panasnya G30S, eyang mengubur foto ini di halaman belakang rumah, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sungguh hingga kini aku ingin betul menemukan foto ini. Tidak ternilai harganya buatku.

Dari obrolan malam itu, aku tetap mengenal eyang sebagai seorang intelektual yang aku kenal dari dulu. Tutur dan bahasanya benar-benar bisa menunjukkan bahwa wawasannya luas dan ia suka belajar. Yang berbeda adalah, ia tidak memperlakukanku seperti anak kecil, seperti waktu ketika ia menyeretku untuk pergi ke gereja di hari minggu. Ia lebih banyak mendengarkan daripada dulu, yang sangat dominan dalam pembicaraan, dan seringkali memaksa pendapat "Kekristenannya" itu. Oke, ternyata orang se-sepuh eyang pun juga masih belajar tentang banyak hal.

*

Hari berikutnya, aku diajak eyang jalan-jalan ke Rembangan. Kalau Yogya punya Kaliurang, Jakarta punya Puncak, Jember punya Rembangan. Tempatnya dingin, kalau tidak salah berada di bukit-bukit, dan menjadi salah satu wisata jadul yang ada di sekitar Jember. Tapi waktu kami ke sana, tempatnya relatif sepi, hanya ada satu-dua kelompok orang yang ada di sana. Yang aku ingat betul, ada sepasang calon pengantin yang sedang melangsungkan foto-foto pre wedding mereka lengkap dengan fotografer dan beberapa kru yang terlibat. 

"Cah-cah enom jaman saiki, foto-foto prewedding koyo ngono, tapi uakeh sing 6 sasi mantenan terus cerai, Yok", (anak-anak muda jaman sekarang, foto-foto pre wedding seperti itu, tapi banyak yang 6 bulan menikah lalu bercerai, Yok) eyang nyeletuk out of nowhere kepadaku. Sambil tertawa aku menjawab, dari mana eyang bisa dapat judgement seperti itu? Banyak terjadi di gereja di sana, katanya. Aku hanya tertawa. Dalam hati aku kembali melihat, bagaimana perjalanan eyang, dari seorang yang cukup kolot (secara spiritual), hidup dalam tempurung kekristenannya, sampai pada sindiran terhadap hal-hal seperti ini. Aku yang SD tidak akan bisa membayangkan eyang bisa nyeletuk seperti itu.

*

Beberapa hari sesudahnya, eyang ada acara dengan kelompok koor di salah satu gerejanya (aku sebut salah satu, karena eyang aktif di beberapa organisasi gereja yang berbeda kala itu). Acaranya semacam retreat, berangkat bersama-sama menggunakan bus. Karena kedekatan eyang dengan pendeta di sana, kami disuruh untuk berangkat satu mobil dengan beliau, alih-alih bersama bus rombongan. Mobil diisi kami berempat: aku, eyang, Pak Pendeta yang memegang kemudi dan istri. Perjalanan memakan waktu beberapa jam, aku lupa pastinya. Yang jelas obrolan di dalam mobil tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Karena aku belum pernah bertemu dengan mereka, tentu topiknya dimulai dengan eyang memperkenalkan siapa aku, siapa ibu bapakku, seperti yang ia lakukan dengan tukang becak setibaku di stasiun beberapa hari sebelumnya. Ketika topik sampai pada bidang studiku, tone obrolannya mendadak berubah. Pak Pendeta yang sambil menyetir menatapku dari kaca spion tengah. "Kok malah belajar filsafat? itu kan bertentangan dengan gereja?" nadanya meninggi. "Kenapa ngga ambil teologi? banyak lho universitas di Jawa yang jurusan Teologi nya bagus", sebelum aku membuka mulut untuk menjawab, dia sudah menyusulkan pertanyaan berikutnya. Tentu, lagi-lagi sebagai mahasiswa filsafat semester 5, obrolan seperti ini udah memiliki SOP dan tupoksinya sendiri di kepalaku. Aku eye contact dengan eyang, untuk membaca reaksinya, dan menerka bagaimana sebaiknya aku bersikap. Wajah eyang terlihat emosi. Di luar dugaanku, ia menyalak duluan untuk menjawab Pak Pendeta, menyanggah perspektif sempit tentang filsafat dan dogma gereja yang ia lontarkan sebelumnya. Perdebatan panjang bergulir dari sana, dengan nada yang sama-sama meninggi. Di luar dugaan, aku malah tertawa dalam hati karena menjadi penonton di sana.

Eyang, di usianya yang senja, masih adalah eyang yang kukenal dulu. Eyang yang merawatku waktu umurku satu tahun, ketika bapak ibu harus menjalani KKN di Jawa Tengah. Masih eyang yang menggendongku dari pintu masuk rumah menuju ke atas lemari tempat tidurku, agar aku terlindung dari gigitan anjing-anjingnya. Lalu sekarang ia melindungiku, bukan sekedar fisik, tapi pandangan spiritualku, dari seorang pemuka agama. Agama yang juga ia pegang dekat di hatinya, seiring dengan pertumbuhan imannya. Aku yang SD tidak akan pernah bisa membayangkan eyang berdebat dan melontarkan kalimat-kalimat seperti itu. Aku tidak ingat pasti bagaimana detil obrolannya, yang jelas sampai perjalanan berakhir di tempat tujuan, suasana menjadi panas, dan eyang bilang padaku, "Yok nanti pulangnya kita ikut bus aja." (tidak naik mobil lagi). Dan setelah acara selesai, kami memang pulang naik bus.

Satu hal lagi, eyang meminta maaf padaku setelah kejadian itu. Poin maafnya terutama karena membuatku ada di posisi yang tidak enak. "Santai, yang, sudah resiko jabatan," jawabku setengah bercanda.

Ketika aku pulang beberapa hari sesudahnya, buku bersampul merah yang kuceritakan di atas tertinggal, dan aku sangat kecewa. Aku jarang mengobrol dengan eyang setelah itu karena kembali hidup dengan kesibukanku sebagai mahasiswa, sampai sekitar 2 tahun kemudian, aku mendapat kiriman paket di kos. Isinya adalah buku tersebut, dengan secarik kertas bertulisan tangan eyang.

"Waktu itu Yok suka banget buku ini, tapi ketinggalan, maaf eyang baru ingat dan sempat kirimkan sekarang"

*

Kini, 4 tahun setelah eyang berpulang. Aku diingatkan kembali, hal terbesar yang diwariskan eyang melalui ingatanku: bahwa manusia bisa terus bertumbuh dalam keimanannya.


Jakarta, 1 April 2023

Saturday, November 3, 2012

(In)formalitas.

Malam ini saya teringat sebuah punchline dari Mbah Seno Gumira Ajidarma.

"Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara," katanya.

Kalimat itu ia jadikan pegangan kala menjadi pemred majalah Jakarta-Jakarta sekitar tahun 1998 silam. Dimana rezim orde baru sedang gencar-gencarnya membredel media-media yang dianggap 'tidak sejalan' dengan mereka. Tidak sejalan dengan apa yang ingin mereka citrakan.

Kalimat tersebut kemudian ia jadikan buku, yang kurang lebih isinya merupakan pertanggungjawaban dari apa yang ia tulis dalam roman 'Jazz, Parfum dan Insiden'. Dalam roman tersebut ia menyelipkan fakta-fakta dari kisruh di Timor Leste dalam masa pelepasannya dari Republik Indonesia. Sisanya adalah roman tentang Jazz. Dan parfum.

Well intinya, Seno memilih jalan lain untuk berbicara kala itu. Ia yang notabene adalah jurnalis, pemimpin sebuah media, tidak ragu untuk pindah haluan ketika jalannya yang biasa diblokir oleh sebuah rezim.

Cerdas. Karena pada akhirnya ia tetap bisa lantang bersuara. Jakarta-Jakarta menjadi satu dari sedikit media yang tidak dibredel, meski Seno sempat harus berhadapan dengan laras senapan. Ya, literally ditodong senapan di dada kirinya. Tapi pada akhirnya, kekerasan memang tidak bisa mematikan kecerdasan. Hihi.

Saya membaca buku itu kelas 1 SMA. Dan cuma bisa melongo setelahnya.

Sekarang saya udah dewasa *ehem*, dan tetap cuma bisa melongo. Sambil tersenyum simpul.

Kenapa? Karena semakin saya ingat kembali, semakin saya memahaminya bukan sekedar sebagai tagline sastrawi. Yang melulu tentang estetika linguistik. Lebih dari itu, ini adalah tentang konsepsi yang radikal. Mendasar, boi.

Jurnalisme itu sarat sistematika. Diksinya, alurnya, segmen bacanya. Semua penuh perkiraan. Semua tentang sistematika (baca: 'formalitas'). Saya jepitkan kata formalitas diantara petik karena formalitas disini bukan yang telah terdistorsi dengan makna negatif, tapi benar-benar formalitas. Sistematika-formal.

Sedangkan sastra? Bahkan ia sering dengan sengaja meng-salah-kan tata bahasanya, demi mengamplifikasi estetika maknanya. Sastra mendobrak segala macam kesahihan struktur linguistik, bahkan alur logis dari proposisi. Bukannya sastra tidak punya marka sistematis, namun ia cenderung mengesampingkan itu untuk mencapai makna yang jauh lebih dalam.

Informalitas ini yang sekarang saya kagumi.
Terkait dengan refleksi saya di kelas, di lingkungan pergaulan, seringkali 'orang formal' bisa terlihat meyakinkan. Sangat menawan dalam orasi, namun tidak punya nyawa dalam berelasi.
Hihihi.
Buat saya, sesuatu yang formal akan jadi bullshit ketika ia hanya menjadi formalitas belaka.
Dan sayangnya, saya memang bukan orang yang bisa mengikuti formalitas dengan setia.
Ibaratnya, kalo formalitas itu pacar saya, entah berapa kali saya udah selingkuh. Hahaha.

Pada akhirnya, ada hal yang tidak bisa diselami oleh formalitas.
Mungkin yang bisa lebih dalam menyentuhnya adalah obrolan hangat, guyonan, atau sebatang-dua batang kretek ditemani segelas kopi hitam di warung kopi.

Makasih Mbah Seno, karena telah mencegah saya terbungkam. Oleh formalitas.
Cheers n beers!


Tuesday, June 19, 2012

Dear Filsafat UI 2011..

YUHUUUUUUUUUUU !!!

It's been a while and I'm already missed you all guuuuys.

Suasana di kelas, ngusilin Wedo, ngobrol di kansas, PES di kosan Deny, nonton film, futsal ceria, ngerjain tugas berjamaah.

Hmm...
Somehow kepulangan gue kemarin agak berbeda rasanya.
Biasanya seminggu sebelum balik ke Jogja, gue akan sangat bersemangat sampai ga bisa tidur, kadang sampe kebawa mimpi kalo tidur. Intinya, ga sabar pulang ke Jogja.

Tapi kemarin?
Ada samanya sih. Ga bisa tidurnya masih tetep. Bukan karena mikirin Jogja.
Tapi kalian.

Sekitar seminggu sebelum balik, gue mendengar kabar bahwa akan ada banyak sekali temen-temen kita yang akan pindah jurusan. Bahkan, lebih dari setengah, katanya, LEBIH DARI SETENGAH.

Hmm perasaan waktu denger kabar itu ga bisa dijelaskan. Ibarat cewe, udah pedekate setaun tapi pas mau nembak ternyata dia jadian sama orang lain. Sakit broooooo. (Engga, ini bukan curhat. Sumpah. Gue ga pernah takut nikung. Hahaha.)

Oke lanjut. Jadi ceritanya gue itu tipe orang yang ga biasa kehilangan temen (meskipun 'cuma' secara jarak). Gue ngga terbiasa berteman dengan cara seperti itu. Ada emosinya juga sih waktu denger. Bagi kalian yang memperhatikan, kamudian gue jadi agak diem. Bukan sok cool (karena udah terlanjur cool sih), tapi gue mikir bro. Terus mau ngapain lagi? Temen seangkatan jurusan segini aja masih sepi, kurang kerasa gregetnya. Apalagi kalo lebih dari setengahnya cabut?

Setelahnya, respon aktif dari otak gue adalah...memperjelas isu itu ke permukaan setiap ada kesempatan. Gue jadi sering mengeluarkan kalimat "Ayolah ikut, yang terakhir nih.." atau kalimat-kalimat provokatif semacamnya. Gue nulis kalimat unyu yang tidak sanggup gue tulis di sini di buku harian kita, pake nempel foto segala hahahahhaha. Berbagai macam reaksi kemudian keluar dari mulut ataupun sekedar gesture kalian. Tatapan mata "Apaan sih lo?!" juga sering gue terima akibat tindakan ini. Hahaha. Maafkan saya ya teman-teman, itu bentuk kepedulian :')

Yah itulah respon reaktif otak gue waktu itu. Tapi setelah jauh lebih tenang dan mikir pake kepala dingin, gue sadar. Gue sadar nggak bisa dan nggak berhak mencampuri hidup kalian sejauh itu. Dan apapun itu, gue harus bisa terima keputusan kalian.

Fiuuuuh. Proses panjang loh itu sampai bisa 'menerima' gitu.
Tapi gue gamau kalian pergi begitu aja tanpa dapet 'sesuatu' di sini.
Gue optimis angkatan ini punya potensi yang besaaaaaarr. Cuma perlu dipoles dikit. Sama dilem deng.
Dengan apa? Dengan rasa saling memiliki satu sama lain. Itu perekatnya. Yang bisa memoles angkatan ini supaya bisa mengoptimalkan potensi yang kita punya.

So, berhubung UAS epistemologi kemaren take home, sekalian aja gue pake sebagai alasan kumpul. Dengan intensi yang berbeda tapi. Kalo sebelumnya gue masih pengen memaksakan kalian buat tetap tinggal, kali ini gue cuma sekedar pengen liat kita bisa kumpul bareng, ketawa barang. Alhasil dengan heroiknya kita sok-sokan ngerjain tugas bareng di perpus. Sebenernya sabi banget itu tugas dikerjain sendiri, di kosan atau rumah masing-masing. Dan bisa jadi hasilnya bakalan lebih efektif (karena pada akhirnya kita di perpus cuma ketawa-ketawa gajelas dari jam 11 pagi -7 malem). Akhirnya gue pun juga tetep harus ngga tidur buat nyelesain itu tugas. Tapi gue seneng malem itu.

Karena apa?

Lem itu sudah mulai bisa menjadi perekat. Yang bisa merekatkan.
Agak susah sih njelasinnya, tapi gue tau. Gue bisa ngerasain. Udah pantes kalo mau dibilang 'keluarga'.
Liat linimasa twitter yang pada ribut ngecengin satu sama lain..
Rasa saling memiliki itu udah ada. Dan gue seneng banget liat itu, guys.

Besoknya, hari selasa. Hari kepulangan gue.

Dengan pasrah ngerjain UAS filsafat Islam dengan mata zombie karena belom tidur ngerjain epis, siangnya UAS mpkt B yang ngomongin sains apa gitu gue ga paham. Setelahnya, gue yang berencana langsung balik kosan buat packing harus tertahan di selasar gd.6 karena ada semacam sesi ngobrol santai sebelum liburan, dengan sebotol AO yang disponsori oleh Icak, rencana karaoke gagal yang sukses membuat Haikal patah hati, dan beberapa topik lain (termasuk sesi memetak-umpetkan tasnya Wedo). Setelah gue wawancara satu-satu, ternyata banyak yang mengurungkan niatnya untuk pindah jurusan. Well, mungkin banyak yang udah terlanjur sayang sama keluarga ini ya hehe

Waktu itu gue baru bisa ngerasa lega. Baru bisa tenang ninggalin Depok, ninggalin kalian.
Karena rasa nyaman itu yang akan bikin gue nantinya akan kangen Depok.
Dan siapa tau nantinya Depok bisa seperti, atau bahkan menggantikan Jogja di mata & hati gue. Mungkin. Siapa tau..

Yang jelas kalian semua udah bikin semua itu jadi mungkin.

Fiuuuhhh. Kalo ada yang bilang semester 2 kemaren adalah sebuah nestapa, kalian punya banyak temen guys, yah setidaknya gue hahaha. Miris liat SIAK yang kali ini. Jadi maksud gue, jangan pernah minder atau mengeluh "Gue ga paham" atau "Gue susah ngejar materinya". Gue juga gitu broooooo. Sama-sama kita pasti bisa lah kalo cuman ngejar nilai.. *sok* hahaha

Kabar baiknya, IP gue diatas 2,5 (jadi besok bisa ambil 20 sks) dan absen filsafat islam gajadi jebol :p
Kabar buruknya, nilai filsafat islam kurang 1 supaya lulus. Sakiiiitttt.

Yah, begitulah sedikit curhatan saya malam ini. Semoga bisa jadi manfaat buat kalian kalian yang membaca.
Oh one last thing, I do really meant it when I said I missed you all, guys :D

Oiya, buat kalian yang akan pindah jurusan, I hope the best for you all.
Semoga menemukan apa yang kalian cari di 'rumah' baru kalian nanti.



...dan jangan pernah lupa untuk berkunjung kembali.
Bukan untuk datang, tapi pulang.



Cheers, HW
Yogyakarta, 19 Juni 2012
01.14



Saturday, March 10, 2012

Jakarta; Sebuah Abstraksi


*finally, mood menulis itu kembali, setelah sekian lama hilang entah kemana. :D

Abstraksi? dari www.http://kamusbahasaindonesia.org 
abstraksi artinya proses penyusunan abstrak;
[n] ikhtisar (karangan, laporan, dsb); ringkasan; inti 
[a] tidak berwujud; tidak berbentuk;

Abstraksi menurut paham terbatas saya : adalah proses penyusunan inti yang tidak berwujud.Contentually, tulisan ini merupakan abstraksi dari pertimbangan dan keputusan dari semua mimpi-mimpi gila tentang Jakarta dan masa depan saya di sana. :D

Latar belakang ceritanya adalah..
malam ini saya pergi ke stasiun kereta lempuyangan Jogja untuk mengantar 3 saudara gila (baca: cacing, beni dan kopi) yang akan berpetualang di Bandung. Stasiun. Entah kenapa tempat ini punya chi yang berbeda dari semua tempat yang ada. Somehow, saya selalu terharu ketika berada di stasiun, karena menurut saya, stasiun adalah tempat yang lekat dengan perpisahan, entah pergi atau ditinggal-pergi. Tidak seperti bandara atau terminal, stasiun dalam pe-rasa-an saya memiliki nuansa yang lebihguyub dan nyaman dibanding pangkalan transportasi yang lainnya. Saat itulah, saat mengantar mereka bertiga saya kembali mendapat pencerahan untuk sekedar menuliskan apa yang saya rasakan. (thanks alot guys, bahkan kepergian kalian memberi "sesuatu" buat saya :D)

Saya berencana meneruskan kuliah di Jurusan Filsafat Universitas Indonesia.

Kenapa Filsafat?

Masa-masa kelas 3 SMA adalah brainstorming moment bagi saya. Kelas 3 SMA adalah masa pergulatan batin, dimana saya akhirnya berkenalan dengan sesuatu yang sangat menarik, filsafat. Di kelas 3 ini saya merasa berada dalam titik jenuh "belajar" tertinggi. (Belajar di sini maksudnya adalah proses belajar-mengajar formal di dalam kelas. Duduk mendengarkan guru, mengerjakan tugas dsb.)

Hari-hari kelas 3 saya habiskan dengan peningkatan intensitas tidur di kelas. Inilah titik awal kedalaman pemikiran itu muncul. Saya merasa aneh dengan hal ini. Menurut saya, belajar itu seharusnya menyenangkan, dan selalu ada sisi yang membuat kita tertarik untuk melakukannya. Tapi apa yang terjadi di kelas? Saya justru semakin sering tidur. Artinya buat saya adalah : sudah tidak ada lagi ketertarikan untuk "belajar". Pertanyaannya hanya, kenapa bisa begitu? well, sampai sekarang (atau bahkan sampai kapanpun) saya masih mencari jawaban atas pertanyaan ini :D

Dari situ saya mulai berpikir, kenapa pelajaran di kelas membosankan? kenapa pelajarannya tidak aplikatif untuk dunia-yang-benar2-nyata akan saya jalani?
kenapa?
apa yang dicari orang dari sekolah? ilmu? ijazah? nilai? angka? teman?

kenapa orang sekolah? apakah orang tidak bisa hidup tanpa sekolah?


Yah, itulah sekelumit pertanyaan yang sliweran di benakku saat itu. Mulai muncul pemikiran tentang hal-hal yang mendasar. Dan saya seperti menemukan hal yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Berpikir. Ternyata menyenangkan juga ya memikirkan hal-hal yang mendasar semacam itu? :D

Semenjak itu saya mulai memindahkan pergumulan rak buku di perpustakaan, yang tadinya rak sastra, bergeser satu rak menjadi filsafat. Saya mulai membaca beberapa macam buku filsafat, mulai dari yang ringan macam novel "dunia sophie", atau yang mengenai cabang-cabang ilmu filsafat seperti filsafat psikologi, filsafat seni, filsafat jawa dengan sastra jendra dan "kesadaran kosmos"-nya, sampai dengan buku berbahasa Inggris keluaran Dorling-Kindersley berjudul "The Story of Philosophy"  yang mengenalkan saya dengan banyak simbah pengampu filsafat kuno macam Aristotle, Plato, sampai yang modern macam Hegel, Marx, Einstein, dsb.

Saya suka terhadap sesuatu yang sifatnya mendasar, karena dari pemikiran dasar kita bisa merangkak ke cabang pikiran manapun semau kita. Begitu juga dengan filsafat. Aplikasinya bisa ke disiplin ilmu manapun, tanpa batas. Borderless. Saya suka berpikir. Saya suka berpikir tanpa dibatasi. Keran pemikiran itu tidak terbatas. Dan saya menemukan wadah yang tepat untuk menampung keran pemikiran tidak terbatas itu, filsafat :)

Kenapa Jakarta?

18 tahun sudah saya bernafas, beraktifitas, dan hidup di kota senyaman Jogja. Dan di umur 18 ini saya baru menyadari betapa nyamannya Jogja itu. There's no place as homy as Jogja guys, trust me. Mau di manapun kalian berada, nggak akan ada kota yang sehidup Jogja. Suasananya, udaranya, masyarakatnya, keramahannya, harga makanannya. Percaya deh sama yang satu ini, Jogja is the one and only ! :D

Nah konfliknya bermula di sini. Jogja udah jadi terlalu nyaman buatku. Aku takut rasa nyaman itu yang nantinya jadi bumerang buatku. Aku takut semakin berat jika harus meninggalkan Jogja suatu hari nanti. Makanya, aku pengen keluar dari zona nyamanku ini, sebelum menjadi lebih berat lagi nantinya :)

Pemikiran itu memicu pergulatan batin lagi (as always).
Aku pernah duduk di angkringan sebelah tenggara alun2 utara (deket bakmi pele) menghadap ke barat daya. Waktu itu menjelang maghrib, suasana sekaten, mataharinya keliatan merah banget dibungkus langit biru gelap, lengkap dengan lampu khas kota jogja yang warnanya ijo, penuh lekukan tanpa sudut. Soundscape nya ada musik house yang diputer di ombak banyu, suara teriakan orang2 yang naik, suara setan di rumah hantu, suara motor di tong stand, suara adzan maghrib dari masjid. (aku menggambarkan sebisaku, kebayang nggak ya?) Nah entah kenapa disitu mengharukan banget suasananya. Aku berpikir, ini lho Jogja ! Suasana semacam ini yang bakal tak kangenin besok di Jakarta :')

(dan mulai saat itu, sudut pandang alun2 utara dari angkringan itu jadi tempat yang sakral bagiku ehehe :D)  

Jakarta tampaknya menantang untuk ditaklukkan, pikirku. Kaya apa sih Ibukota, yang katanya jauh lebih kejam daripada Ibu tiri itu? Memang aku berencana datang dan numpang hidup di sana untuk mencari konflik. Mengubah ketidaknyamanan menjadi zona nyaman baru melalui serangkaian proses yang aku yakin akan sangat memperkaya kualitas diri seorang manusia.

Berat memang meninggalkan Jogja dengan segala kenyamanan, kenangan, dan orang2 yang aku sayang di sini, berat banget. Tapi ini yang namanya hidup bro. Nggak ada manfaatnya kalo cuma diem di zona nyaman kita. "To discover something new, that's why life is beautiful, isn't it?"

Well, that's  my blueprint, guys :D
Itulah sekelumit cerita, gagasan dan pertimbangan tentang kenapa filfafat dan Jakarta yang akan mengisi hati saya beberapa tahun ke depan hahaha :D

Kepastiannya baru akan kudapat tanggal 30 Juni besok, minta doanya yaa :D

*Anggap saja tulisan ini merupakan pertanggungjawaban keputusan saya kepada orang tua (sing omahe tak tunuti urip karo mangan 18 taun iki :p), banyak teman yang mempertanyakan keputusan radikal ini (ben ora kemeng le njelaske), dan sukur alhamdulillah kalo bisa jadi manfaat buat kamu, kamu, dan kamu yang membaca :)

Jogja, 18 Juni 2011
00.43 

Berkacalah Pada Mereka..


       “Saya Pak Ngatimin..” Beliau berkata demikian seraya mengulurkan tangan keriputnya untuk berjabat tangan. Kuterima jabatan tangannya, dan kami berjalan menuju ke rumahnya. Kuperhatikan Pak Ngatimin, pria paruh baya yang kelihatan masih sangat kuat di usianya. Ia tidak memakai alas kaki, padahal jalan setapak di dusun jambusari ini penuh dengan bebatuan. Sudah terbiasa, katanya. Memang, kebiasaan bisa merubah seseorang, dan tergantung bagaimana membiasakan diri untuk membawa perubahan kebiasaan kita ke arah yang positif.

            Songbledeg sebenarnya adalah nama kelurahan, yang terdiri dari 2 desa : Jambusari dan Weru. Aku mendapat jatah merasakan tinggal di desa Jambusari.

            Masyarakat desa Jambusari adalah masyarakat agraris. Hampir semuanya bermata penceharian sebagai petani. Mereka memiliki ladang, yang secara turun-temurun diwariskan. Tanaman pokok yang ditanam adalah padi, ketela dan jagung. Corak geografis berupa batuan gamping yang berbukit-bukit membuat masyarakat di sana terbiasa bercocok tanam di atas bukit.

       Di desa Jambusari tidak ada anak remaja, karena biasanya setelah lulus smp, mereka langsung merantau ke kota Solo atau Jogja. Yang tinggal di sana hanyalah anak kecil dan oramg tua saja.

          Seperti kebanyakan masyarakat desa pada umumnya, mereka sangat menekankan rasa kekeluargaan dan gotong royong. Setiap musim panen tiba, semua warga bergotong royong memanen hasil secara bergiliran, dari satu ladang ke ladang lain.

            Keramahan juga sangat tampak dari kehidupan warga desa Jambusari. Semua saling mengenal satu sama lain, bahkan meskipun jarak rumahnya sangat jauh.

            Masih tak percaya rasanya waktu itu, berada di desa yang jauh, dalam sebuah acara sekolah yang diluar dugaanku sebelumnya. Tadinya kuanggap live-in sebagai sebuah kegiatan yang pasti akan terlalui, dengan atau tanpa usaha yang berarti. Live-in seperti sebuah sandiwara, dimana aku akan bermain peran di dalamnya. Aku hanya perlu membawa diri, seolah-olah menjadi anak Pak Ngatimin, warga desa Jambusari.

            Tetapi semua berbeda. Ternyata di sana, aku tidak seolah-olah mandi dengan air hujan, di kamar mandi yang lebih terbuka daripada kamar tidur. Aku tidak seolah-olah mendorong mobil pickup berisi 30 orang untuk bisa melewati tanjakan dan sampai ke pasar yang jauhnya 15 km. Aku tidak seolah-olah berinteraksi dengan warga desa lain. Aku tidak seolah-olah pergi ke ladang dengan berjalan menaiki bukit. Ini bukan sandiwara ! Memang inilah kehidupan masyarakat di sana. Dan melalui live-in, aku tidak bisa hanya “seolah-olah” menjadi anak Pak Ngatimin, warga desa Jambusari. Aku harus menjadi anak Pak Ngatimin, dan menjadi bagian dari Desa Jambusari itu sendiri.

            Di sana, aku mengenal yang namanya rasa syukur. Bagaimana mensyukuri keadaan yang sulit untuk disyukuri. Tidak ada air, menampung air hujan untuk mandi dan mencuci. Gagal panen, tetap gotong royong untuk membantu warga lain yang masih bisa panen. Jauh dari pasar, harus menempuh jarak 15 km dengan kendaraan yang memuat beban jauh melebihi kapasitasnya, dan harus turun untuk mendorong di setiap tanjakan untuk bisa sampai ke pasar. Untuk bisa sekedar menjual hasil panen yang sebenarnya tidak seberapa. Di sini aku berpikir, ketika aku merasa tidak nyaman berada dalam situasi semacam ini, bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan mereka yang mengalami ini 3 hari sekali?  Aku membayangkan kejenuhan dan keletihan yang teramat sangat. Tapi setelah melihat sekitar, aku tidak melihat raut wajah mengeluh. Yang ada adalah wajah gembira. Gembira karena inilah kesempatan menjual hasil jerih payah dan tetes keringat mereka. Meskipun harus melewati “jalan” yang tidak mudah, mereka begitu mensyukurinya. Inilah yang namanya rasa syukur. Mudah untuk bersyukur ketika kita dimudahkan dalam berbagai hal, tetapi bersyukur dalam keadaan sulit, jauh lebih bernilai rasanya.

            Ketika semuanya berakhir, aku masih ingat betul keramahan mereka. Bagaimana semua orang tua kami mengantar ke desa sebelah, untuk berkumpul dan pulang. Aku masih ingat suasana itu. Suasana haru saat kami menempelkan kepalan tangan kami di dada dan bernyanyi mars. Semua orang tua kami menangis. Dan aku yakin itu tangisan yang tulus, sebagai bapak dan ibu. 4 hari merupakan waktu yang sangat singkat. Dan sesingkat itu pula mereka bisa menerima kami. Sebagai anak, sebagai warga desa, sebagai tetangga, sabagai teman bermain, sebagai manusia utuh, karena mereka tidak memandang apa warna kulit kami, atau kekayaan dan pangkat orang tua kami. Mereka benar-benar menerima kami apa adanya.

           Dan akhirnya semua pergulatan batinku bermuara pada sebuah nilai kehidupan. Mungkin banyak orang menganggap hidup kita lebih beruntung daripada masyarakat pedesaan. Tapi menurutku, mereka lebih beruntung. Karena dengan merasakan apa yang mereka rasakan, aku bisa melihat banyak hal yang tidak bisa kulihat sebelumnya. Setelah kudalami, aku tidak ingin semua ini menguap begitu saja. Aku ingin apa yang aku dapatkan, bisa menjadi bekal perjalanan hidupku, sampai selamanya.  

Wonogiri, 30 Januari 2010

Tembok Itu Bernama Kesenjangan Sosial


2 tahun yang lalu. Ya, aku masih ingat betul apa yang kulihat waktu itu. Orang-orang di lingkungan yang kumuh itu mandi di kali. Kali yang jauh dari kesan bersih. Airnya keruh, banyak sampah hanyut, bahkan limbah dari perut manusia pun campur aduk di sana, di tempat yang mereka gunakan untuk membersihkan badan. Tidak terbayang olehku. Seandainya aku yang menggantikan posisi mereka, tentu bukan raut wajah itu yang akan keluar. Mungkin lebih baik tidak mandi bagiku, daripada justru membuat badan kotor dengan “membersihkan” badan di tempat itu. Tapi lihat mereka! Sama sekali tidak ada raut wajah jijik, dan tidak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka. Justru celotehan canda dan tawa yang keluar dari mulut anak-anak yang sedang bermain air itu. Mereka terlihat sangat menikmati setiap cipratan yang mengenai kepala mereka. Mereka juga tidak segan untuk memasukkan kepala mereka dalam air, menyelam dan mengagetkan temannya dari belakang. Oh indahnya dunia mereka, pikirku. Dasar anak-anak.. Mereka tidak akan tahu pahitnya dunia sebelum berubah menjadi dewasa.

Kali itu merupakan sumber kehidupan masyarakat sekitar. Tidak pernah sepi tepian kali itu sepanjang hari. Mandi, mencuci, bermain air, kencing dan buang air besar mereka lakukan di sana. Di depan tepi kali itu, tedapat sebuah toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Di situlah banyak bapak-bapak sering berkumpul di sore hari,  mengobrol dan melepas lelah setelah seharian bekerja. Ada yang buka bengkel kecil-kecilan, tukang ojek, dan yang paling banyak adalah tukang becak. Mereka bisa menghabiskan banyak waktu di sana. Mungkin sebagian dari mereka melakukannya karena tidak betah di rumah, mendengarkan omelan istri yang menuntut materi. Yah, begitulah. Kehidupan di sekitar kali itu dipenuhi realita masyarakat akar rumput yang seakan tidak pernah ada habisnya.

Heran juga, kenapa di kota besar seperti Jogja ini masih ada saja masyarakat seperti itu. Di era pembangunan proyek real estate macam Casa Grande digenjot habis-habisan, ternyata masih ada orang yang mencuci pakaian di kali. Ada masyarakat yang masih buang air besar di kali. Sementara itu, pemkot masih sibuk dengan proyek renovasi, atau lebih tepatnya komersialisasi Tugu yang menghabiskan dana tidak sedikit. Mereka tidak lihat atau sengaja menutup mata? Entahlah.

Hari itu aku benar-benar melihat dan belajar. Kesenjangan sosial itu sangat nyata! Ternyata kesenjangan sosial bukan hanya tertulis di modul sosiologi yang sering kubaca. Ini nyata! Dan orang tidak berdaya untuk merombak, atau bahkan menghancurkannya.

                                                                                 ***

Ketika melihat lebih jauh, ternyata di dekat kali itu terdapat sebuah perumahan. Perumahan besar yang memakai tembok besar sebagai pagar pelindung. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar perumahan itu, yaitu melalui jembatan di atas kali. Perumahan itu memang terletak di tengah kali, hanya saja tanahnya lebih tinggi. Dulu pernah ada banjir besar yang melanda perumahan itu. Kali yang meluap akibat hujan lebat selama berhari-hari menyebabkan air merendam perumahan itu setinggi 2 meter. Hal itu sebenarnya membuat orang menjadi takut untuk tinggal di sana. Tapi cerita itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. Warga perumahan itu seakan ingin mengubur dalam-dalam kenangan pahit tentang perasaan kehilangan harta benda mereka. Mereka ingin memulai segala-sesuatunya dengan baru.

Kini, penghuninya rata-rata kelas menengah keatas. Hampir setiap rumah memarkir mobil di garasinya. Banyak lampu penghias di jalan, atau lebih tepatnya terlalu banyak, karena membuat penerangan sangat terang. Sebuah ide yang jauh melenceng dari esensi lampu sebagai penerang. Sementara perumahan itu begitu berlimpah listrik dan sumber daya, di depan toko kelontong dekat kali itu hanya ada satu lampu redup berwarna kuning, yang membuat mata sakit karena keredupannya. Itu saja akan dimatikan ketika jam sudah menunjuk angka 10 malam. Mobil warga perumahan yang kerap lewat sering mengacuhkan orang yang sedang duduk di sana. Jangankan menyapa atau sekedar permisi, mematikan lampu saja seakan sangat berat untuk dilakukan.

Aku berpikir, setelah ada kesenjangan sosial yang meresahkan macam itu, kenapa warga sekitar kali tidak pernah keberatan? Kenapa mereka seakan menyikapinya seperti angin yang berhembus begitu saja? Padahal kalau mau, mereka bisa saja berama-ramai menyerang dan menjarah seluruh harta benda warga perumahan itu. Mereka bisa melakukannya. Tapi, kenapa tidak?

Hati. Hati mereka berbicara di sini. Mereka tidak mau melawan binatang dengan memakai cara binatang. Berat, memang. Tapi itu yang mereka yakini, paling tidak untuk saat ini. Jika di kemudian hari mereka benar-benar merencanakan sebuah “agresi” ke perumahan itu? Mungkin. Hanya Dia yang maha tahu. Saat itu terjadi, bisa saja mereka menghancurkan tembok besar yang mengitari perumahan itu, tapi tembok kokoh yang bernama kesenjangan sosial tidak semudah itu bisa dihancurkan. Perlu sebuah proses yang panjang bagi seorang manusia jenius sekalipun untuk bisa memaknai dengan bijak sesuatu yang disebut perubahan.


Jogja, 14 Mei 2010, 16:54

Merapi Ingkang Numrapi


“Melihat kekuatan alam, jelas
manusia bukan tandingannya..”
             
            Melihat sebuah fenomena bencana akhir-akhir ini, ketika gempa bumi dan tsunami menghantam Mentawai, Banjir meluapi Wasior, Gunung Merapi memuntahkan isi perutnya, saya semakin percaya bahwa manusia bukan yang terhebat, apalagi jika berhadapan dengan kekuatan alam.
            Merapi yang biasanya ramah, menjadi tanah subur dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya kini menjadi hal yang menakutkan. Aliran lahar, material vulkanik dan awan panas (wedhus gembel) yang terus-menerus dimuntahkan telah menelan ratusan korban jiwa, menghancurkan ribuan rumah penduduk, dan memaksa ratusan-ribu orang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Erupsi kali ini merupakan yang terhebat sejak tahun 1872, membuat perhatian media massa nasional, bahkan internasional tertuju kepadanya.


“..dia mengajari manusia untuk mendaya-
gunakan teknologi informasi dengan tepat..”

            Terkait dengan meningkatnya aktivitas merapi kali ini, banyak pemberitaan di media elektronik nasional yang cenderung berlebihan dan membuat kepanikan. Beberapa orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas akibat pemberitaan salah satu televisi nasional yang menyebut awan panas merapi sudah sampai Jl.Kaliurang km 15. Padahal maksud sebenarnya adalah abu vulkanik merapi, bukan awan panas. Namun apa daya, masyarakat terlanjur panik dan kehilangan filter informasi yang dimiliki. Kecelakaan terjadi di seputar Jalan Kaliurang terkait pemberitaan tersebut dan menyebabkan korban jiwa melayang sia-sia.
            Beberapa wartawan juga sempat dilarang untuk meliput oleh warga masyarakat sekitar karena takut menyebarkan informasi yang berlebihan. Bahkan ada yang sampai dihakimi massa karena masih memaksa untuk meliput.
            Ironis? Ketika teknologi informasi berkembang begitu pesatnya, justru ia bisa jadi bumerang yang memperparah keadaan jika tidak bisa didaya-gunakan dengan bijak. Apa yang bisa saya bantu? Paling tidak, dengan mencoba membantu menyalurkan informasi valid tentang kondisi merapi dari sumber yang bisa mempertanggung-jawabkan, yaitu dari situs resmi komunitas relawan merapi danlive streaming radio amatir posko-posko pemantauan yang berada di ring 1 lereng merapi via situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

“..dia mengajari kita untuk bergandengan,
tanpa melihat keterbatasan dan perbedaan..”

            Solidaritas. Simpati. Empati. Aksi. Evaluasi. Refleksi. 6 kata yang menjadi dasar semangat membantu. Kesemuanya itu tertuang penuh dalam bencana kali ini. Pun ketika kami menerima 150-an pengungsi dari 3 desa di lereng merapi, bantuan begitu derasnya mengalir. Melalui twitter, sms atau bahkan telepon, kebanyakan dari orang tidak dikenal yang dengan ikhlas mau membantu. Tidak selalu besar jumlahnya, tapi yang pasti menjadi manfaat bagi penerimanya.
            Komunitas relawan merapi juga menjadi cermin bagaimana masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat merapatkan barisan dan dengan ikhlas membantu tanpa pamrih. Sebuah sisi positif dari sebuah bencana : manusia menjadi peduli.
Itulah esensinya. Bukan masalah siapa, tapi bagaimana bisa membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Setiap manusia dan golongannya memang berbeda, tapi justru dengan perbedaan itu kita bisa saling melengkapi. Dan sekali lagi, melalui peristiwa ini, sebuah benda mati mengajari kita untuk bergandengan, tanpa melihat keterbatasan dan perbedaan.

“..dia menunjukkan kepadaku manusia-
manusia hebat yang berharga..”

            Seakan-akan tenaga mereka tidak terbatas untuk menolong. Ketika ada informasi melalui telepon atau sms, selalu saja ada jari yang teracung untuk bersedia berangkat. Dari tempat yang dekat seperti samirono atau kentungan, sampai yang jauh seperti desa blabag, magelang atau sayegan, godean. Tanpa bertanya ini-itu, menunjukkan betapa ikhlas manusia-manusia hebat ini. Sesuai dengan namanya, relawan, berarti rela untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kami yang tetap tinggal di posko hanya bisa menitipkan doa dan salam kepada semua yang berangkat.
            Bukan cuma yang keluar, tapi orang-orang bagian logistik, data atau mereka yang mendampingi pengungsi di aula, semua memberi pelajaran yang berbeda kepada saya. 4 hari bukan waktu yang singkat untuk tetap siaga. Dan hal itu terjadi saat ini. Membuktikan bahwa tenaga dan pikiran tidak akan terbatas untuk sesama.

“..dia mengajari kami cara
memberikan keramahan..”

            Bayangkan ada 150 orang tidak dikenal yang secara tiba-tiba masuk ke dalam komunitas, dan bersinggungan langsung dengan kita. Canggung, awalnya. Melihat bagaimana masyarakat yang sangat berbeda kebiasaan ada di depan mata dan hidup berdampingan dengan kita. Mau tidak peduli? Bisa saja. Tapi tentu saja tidak ada pembelajaran dibalik setiap ketidak-pedulian. Mungkin sekedar berbasa-basi, atau sekedar mengucap salam, ternyata yang bagi kita hanya “sekedar” bisa jauh lebih bermakna bagi mereka. Tampaknya obrolan ringan juga bisa menjadi trauma healing yang mujarab.
           Hal ini yang sering dilupakan. Bahwa tanggap bencana bukan hanya membantu dengan logistik atau tenaga relawan. Ada trauma mendalam yang berdampak pada sisi psikologis mereka yang menjadi korban. Mendengar cerita teman relawan yang mendampingi sesi menggambar anak-anak di pengungsian, saya semakin trenyuh. Semua anak menggambar gunung meletus. Ada yang menggambar gunung yang indah dengan coretan pemandangan khas anak-anak, tetapi kemudian diakhiri dengan membuat garis tebal yang melambangkan wedhus gembel dan lava pijar keluar dari kawahnya.
           Justru trauma psikologis seperti ini yang akan paling lama masa penyembuhannya jika dibandingkan dengan kerugian fisik yang terjadi. Setiap dari kita bisa membantu, jika peduli. Keramahan? Sebuah hal sepele yang berdampak besar, ternyata.. 


Teman-teman baru kami pada waktu itu :)
“..dia menunjukkan senyum dari mulut
yang seharusnya tidak bisa tersenyum..”

           Ekspresi apa yang kita harapkan dari sebuah bencana? Mungkin semua ekspresi yang melambangkan kesedihan. Tapi ternyata apa yang saya temui? Bukan tangisan, bukan keluhan, tapi senyuman. Di saat bencana melanda, mereka yang menjadi korban masih saja bisa tersenyum. Khas filosofi Jawa yang nrimo dengan ikhlas, pasrah tanpa putus asa. Sebuah kekayaan intelektual yang belum tentu dimiliki masyarakat kota yang notabene dianggap lebih “beradab” dan mengenyam pendidikan tinggi daripada mereka yang tinggal di desa.
           Melalui mulut anak-anak kecil di pengungsian, aku melihat senyum yang menurutku tadinya tidak mungkin untuk kulihat. Mereka tersenyum, bahkan ketika melihat orang baru yang tidak dikenal, bertanya nama dan langsung mengajak bermain petak umpet. Melihat betapa bahagianya mereka meskipun sedang ditimpa musibah, sungguh sebuah realita yang sangat reflektif, mengingatkan kita yang selalu mengeluh meskipun sudah diberi begitu banyak kemudahan dan fasilitas berlebih. Mungkin ini bukan materi pelajaran yang mempengaruhi nilai raport, tapi aku merasa berharga bisa mempunyai kesempatan untuk belajar bersyukur dari mereka, dan selanjutnya mendapat nilai kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

“dan akhirnya, dia menunjukkan
 sisi lain dari sebuah bencana.”

           Mengeluh dalam keadaan berlebih itu biasa. Tapi mensyukuri keadaan sulit, itu sesuatu yang luar biasa. Setiap peristiwa punya 2 sisi untuk dilihat. Mau melihat dari sisi “bencana yang menyengsarakan” ? Atau dari sisi “bencana yang menjadi manfaat” ? Semua kembali pada diri kita sendiri. Terpuruk dalam kesedihan, dalam kapasitasnya bisa bermanfaat. Tetapi hidup terus berjalan, dan akan lebih baik jika kita melihat sesuatu yang lebih dalam daripada hanya sekedar kesedihan itu sendiri.
           Dalam keganasannya kini, Merapi masih saja menyiratkan dirinya yang dulu. Merapi ingkang numrapi. Merapi yang memberi manfaat.



Yogyakarta, 15 November 2010 | 23:49