Setiap pulang kantor, di jalan pulang, di mrt, scrolling2 ig
Selalu ada kabar buruk yang kulihat
Korupsi pertamina
Korupsi antam
Kelangkaan elpiji
RUU TNI
Yang dibahas tertutup
Tengah malam
Di hotel fairmont (3 kalimat lucu)
Rupiah melemah
Setoran pajak turun
Pungutan thr ormas
Band yg dicegat di jalan terus disuruh minta maaf karena bikin lagu yg mencela polisi
TNI mukulin polisi
TNI nembak polisi di Lampung
IHSG disuspend, lalu divisit Dasco (bangke disidak dikira pasar tradisional)
Makin banyak orang yg ditunjuk, bukan dipilih rakyat
Vokalis band yg ditunjuk jadi Dirut PT Produksi Film Negara
Masih mau bilang ngga gelap?
“Ah ngapain koar2 doang di sosmed?”
Bro, itu tahap pertama. Harus ada keresahan kolektif dulu baru bisa eskalasi. Turun ke jalan, public disobedience, itu step2 selanjutnya. Tapi harus ada kesadaran kolektif dulu. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Bahwa ada yang harus diubah. Entah caranya apa nantinya.
Aku tidak mau bersembunyi di balik segelas kopi tomoro yg aku minum tiap hari
Di balik macbook yg aku tenteng tiap hari di kantor
Di balik postingan2 lari yang setiap hari aku bagikan
Di balik nyamannya hidup yg aku miliki saat ini
Pun akhirnya senyaman apapun hidupku hari ini, keresahan itu tetap datang setiap aku pulang kantor, melalui kabar buruk kabar buruk yang selalu berseliweran di timelineku.
Kenapa bisa seresah itu? Karena suatu hari aku mau punya anak. Dan aku tidak mau mewariskan dunia yang seburuk ini untuknya kelak.
Jadi mari bagikan satu kabar buruk setiap hari, supaya muncul kesadaran kolektif. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dan kita tetap bisa berjuang, dalam rutinitas kita masing-masing.
Jakarta, 19 Maret 2025
19.21