Wednesday, March 19, 2025

Satu Hari, Satu Kabar Buruk

Setiap pulang kantor, di jalan pulang, di mrt, scrolling2 ig

Selalu ada kabar buruk yang kulihat

Korupsi pertamina

Korupsi antam

Kelangkaan elpiji

RUU TNI

Yang dibahas tertutup

Tengah malam

Di hotel fairmont (3 kalimat lucu)

Rupiah melemah

Setoran pajak turun

Pungutan thr ormas

Band yg dicegat di jalan terus disuruh minta maaf karena bikin lagu yg mencela polisi

TNI mukulin polisi

TNI nembak polisi di Lampung

IHSG disuspend, lalu divisit Dasco (bangke disidak dikira pasar tradisional)

Makin banyak orang yg ditunjuk, bukan dipilih rakyat

Vokalis band yg ditunjuk jadi Dirut PT Produksi Film Negara


Masih mau bilang ngga gelap?


“Ah ngapain koar2 doang di sosmed?”


Bro, itu tahap pertama. Harus ada keresahan kolektif dulu baru bisa eskalasi. Turun ke jalan, public disobedience, itu step2 selanjutnya. Tapi harus ada kesadaran kolektif dulu. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Bahwa ada yang harus diubah. Entah caranya apa nantinya.


Aku tidak mau bersembunyi di balik segelas kopi tomoro yg aku minum tiap hari

Di balik macbook yg aku tenteng tiap hari di kantor

Di balik postingan2 lari yang setiap hari aku bagikan

Di balik nyamannya hidup yg aku miliki saat ini


Pun akhirnya senyaman apapun hidupku hari ini, keresahan itu tetap datang setiap aku pulang kantor, melalui kabar buruk kabar buruk yang selalu berseliweran di timelineku.


Kenapa bisa seresah itu? Karena suatu hari aku mau punya anak. Dan aku tidak mau mewariskan dunia yang seburuk ini untuknya kelak.


Jadi mari bagikan satu kabar buruk setiap hari, supaya muncul kesadaran kolektif. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dan kita tetap bisa berjuang, dalam rutinitas kita masing-masing.


Jakarta, 19 Maret 2025

19.21


Saturday, June 8, 2024

The End.

I always imagine, what the end will look like

It will come with a burst of emotion

A fire

Explosion like a hydrogen bomb that destroys all of our buildings

The foundation that we’ve built together for a long time

It will come with a big argument

Where I defend mine

And you defend yours

Then we left that talk with a 200kg burden in our chest

It will come with a big bang

But instead of giving birth to life like in science

This one in reverse,

Will suck out life from every being

It will absorb all the light in my universe

What remains is a total darkness

Endless horizon with no appetite


That’s what I always ever imagined.

Turns out, I was wrong


It never comes with that grande spectacles

Instead

It comes with small steps

The ones that you never realize

Until suddenly you are on a completely different side of the world

It comes slowly

With expectation that one by one didn’t meet

It comes along with days when you want to be together, but turns out cannot

It comes along with you fighting your own battle

That you tried to share, to relieve a bit of the pressure

But you decided not to

Because you know exactly what that will end with

And you continue your life

With happiness that you seek elsewhere

Because of the difference

Up until a point where it’s pointless

Not because that you aren’t happy together

But because that mutual happiness circle becomes smaller, and smaller

Emotionally disconnected


Nothing left.


Different from what I imagined before,

The end comes with a peaceful intent

That you want to move on with your life


Jakarta, 3rd March 2024

15.22

Wednesday, April 10, 2024

Rumah

Kepulanganku yang kali ini terasa berbeda
Entah karena apa
Aku merasa akan berpisah dengan sesuatu
atau seseorang
atau perasaan

Di jalan ketika mendengar Time To Rest Your Weary Head
Tenggorokanku tercekat
Sambil melihat matahari turun ke peraduan
Dari jendela kereta bandara

Pun dengan delay 3 jam khas maskapai LCC
Sehingga tiket kereta bandara YIA ke stasiun tugu hangus
karena kemalaman
Akhirnya jam 12 malam baru duduk di taksi

Aku kembali termenung
Meski mas Hendra sang supir taksi terus mengajak ngobrol dengan ramah
tanda bahwa aku sudah dekat rumah
Aku seperti enggan untuk terlibat
lebih ingin untuk diam dan melamun saja
Seiring mobil yang melaju konstan 70km per jam

Jam tepat menunjukkan pukul 00.45 ketika aku masuk rumah
Bapak menyambut di teras rumah
Ibu di dalam masih mengerjakan kue
Adik-adik di dalam kamar seperti biasa
Aku cium tangan dan peluk satu-satu
Hanya tiga bulan tapi terasa lama sekali
Sejak aku terakhir ke sini

Tangisku pecah malam itu
Aku bercerita bagaimana di luar sana orang diperlakukan
Tidak seperti bagaimana aku diajarkan memperlakukan orang
oleh bapak ibuku
Aku bercerita bagaimana malam itu aku terkena panic attack
karena takut sendirian
Aku bercerita bagaimana aku stuck di 2/3 hidupku
Kami ngobrol sampai jam 4.30 pagi itu

Ternyata sekuat apapun diriku
Aku masih seorang anak itu
Yang sering tidak pulang
Tapi selalu butuh untuk menceritakan keherananku pada dunia
Ke mereka yang ada di rumah

Dan aku diingatkan hari ini
Seberapa pun berat hidup
Pada akhirnya
Di tengah tangis dan pelukan ibu
Semua baik-baik saja.

Jogja, 10 April 2024
08.56

Wednesday, March 20, 2024

Sajak

Aku hidup di dalam sajak
Yang manis di tulisan, meski hambar di kenyataan
Yang penuh kata-kata indah
Yang bisa membuat dada terasa penuh
Dengan rasa dan makna

Duniaku terbuat dari diksi dan rima
Yang berkelindan
Menceritakan peristiwa
Orang
dan perasaan

Di setiap akhir hari yang letih
Aku selalu bisa berteduh
Dalam rangkaian kata
Meringkukkan badan
Dan menutup mata dengan tenang

Kalau boleh memilih,
Aku ingin hidup seperti ini saja
Sebagai orang pertama serba tahu
Pelaku utama dalam ceritaku sendiri

Seperti tadi ketika aku di jalan
Ada pohon yang ditebang
Lalu dari tumpukan dahan dan ranting
Muncul kupu-kupu bersayap oranye
Yang kemudian mengelilingiku dua kali
Sebelum terbang tinggi ke arah kiri
Sungguh puitis

Padahal ketika mengingat lagi
Tidak ada yang istimewa dari kejadian itu
Kalau aku tidak hidup di dalam sajak


Jakarta, 20 Maret 2024
09.41