*finally, mood menulis itu kembali, setelah sekian lama hilang entah kemana. :D
Abstraksi? dari www.http://kamusbahasaindonesia.org
abstraksi artinya proses penyusunan abstrak;
[n] ikhtisar (karangan, laporan, dsb); ringkasan; inti
[a] tidak berwujud; tidak berbentuk;
Abstraksi menurut paham terbatas saya : adalah proses penyusunan inti yang tidak berwujud.Contentually, tulisan ini merupakan abstraksi dari pertimbangan dan keputusan dari semua mimpi-mimpi gila tentang Jakarta dan masa depan saya di sana. :D
Latar belakang ceritanya adalah..
malam ini saya pergi ke stasiun kereta lempuyangan Jogja untuk mengantar 3 saudara gila (baca: cacing, beni dan kopi) yang akan berpetualang di Bandung. Stasiun. Entah kenapa tempat ini punya chi yang berbeda dari semua tempat yang ada. Somehow, saya selalu terharu ketika berada di stasiun, karena menurut saya, stasiun adalah tempat yang lekat dengan perpisahan, entah pergi atau ditinggal-pergi. Tidak seperti bandara atau terminal, stasiun dalam pe-rasa-an saya memiliki nuansa yang lebihguyub dan nyaman dibanding pangkalan transportasi yang lainnya. Saat itulah, saat mengantar mereka bertiga saya kembali mendapat pencerahan untuk sekedar menuliskan apa yang saya rasakan. (thanks alot guys, bahkan kepergian kalian memberi "sesuatu" buat saya :D)
Saya berencana meneruskan kuliah di Jurusan Filsafat Universitas Indonesia.
Kenapa Filsafat?
Masa-masa kelas 3 SMA adalah brainstorming moment bagi saya. Kelas 3 SMA adalah masa pergulatan batin, dimana saya akhirnya berkenalan dengan sesuatu yang sangat menarik, filsafat. Di kelas 3 ini saya merasa berada dalam titik jenuh "belajar" tertinggi. (Belajar di sini maksudnya adalah proses belajar-mengajar formal di dalam kelas. Duduk mendengarkan guru, mengerjakan tugas dsb.)
Hari-hari kelas 3 saya habiskan dengan peningkatan intensitas tidur di kelas. Inilah titik awal kedalaman pemikiran itu muncul. Saya merasa aneh dengan hal ini. Menurut saya, belajar itu seharusnya menyenangkan, dan selalu ada sisi yang membuat kita tertarik untuk melakukannya. Tapi apa yang terjadi di kelas? Saya justru semakin sering tidur. Artinya buat saya adalah : sudah tidak ada lagi ketertarikan untuk "belajar". Pertanyaannya hanya, kenapa bisa begitu? well, sampai sekarang (atau bahkan sampai kapanpun) saya masih mencari jawaban atas pertanyaan ini :D
Dari situ saya mulai berpikir, kenapa pelajaran di kelas membosankan? kenapa pelajarannya tidak aplikatif untuk dunia-yang-benar2-nyata akan saya jalani?
kenapa?
apa yang dicari orang dari sekolah? ilmu? ijazah? nilai? angka? teman?
kenapa orang sekolah? apakah orang tidak bisa hidup tanpa sekolah?
Yah, itulah sekelumit pertanyaan yang sliweran di benakku saat itu. Mulai muncul pemikiran tentang hal-hal yang mendasar. Dan saya seperti menemukan hal yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Berpikir. Ternyata menyenangkan juga ya memikirkan hal-hal yang mendasar semacam itu? :D
Semenjak itu saya mulai memindahkan pergumulan rak buku di perpustakaan, yang tadinya rak sastra, bergeser satu rak menjadi filsafat. Saya mulai membaca beberapa macam buku filsafat, mulai dari yang ringan macam novel "dunia sophie", atau yang mengenai cabang-cabang ilmu filsafat seperti filsafat psikologi, filsafat seni, filsafat jawa dengan sastra jendra dan "kesadaran kosmos"-nya, sampai dengan buku berbahasa Inggris keluaran Dorling-Kindersley berjudul "The Story of Philosophy" yang mengenalkan saya dengan banyak simbah pengampu filsafat kuno macam Aristotle, Plato, sampai yang modern macam Hegel, Marx, Einstein, dsb.
Saya suka terhadap sesuatu yang sifatnya mendasar, karena dari pemikiran dasar kita bisa merangkak ke cabang pikiran manapun semau kita. Begitu juga dengan filsafat. Aplikasinya bisa ke disiplin ilmu manapun, tanpa batas. Borderless. Saya suka berpikir. Saya suka berpikir tanpa dibatasi. Keran pemikiran itu tidak terbatas. Dan saya menemukan wadah yang tepat untuk menampung keran pemikiran tidak terbatas itu, filsafat :)
Kenapa Jakarta?
18 tahun sudah saya bernafas, beraktifitas, dan hidup di kota senyaman Jogja. Dan di umur 18 ini saya baru menyadari betapa nyamannya Jogja itu. There's no place as homy as Jogja guys, trust me. Mau di manapun kalian berada, nggak akan ada kota yang sehidup Jogja. Suasananya, udaranya, masyarakatnya, keramahannya, harga makanannya. Percaya deh sama yang satu ini, Jogja is the one and only ! :D
Nah konfliknya bermula di sini. Jogja udah jadi terlalu nyaman buatku. Aku takut rasa nyaman itu yang nantinya jadi bumerang buatku. Aku takut semakin berat jika harus meninggalkan Jogja suatu hari nanti. Makanya, aku pengen keluar dari zona nyamanku ini, sebelum menjadi lebih berat lagi nantinya :)
Pemikiran itu memicu pergulatan batin lagi (as always).
Aku pernah duduk di angkringan sebelah tenggara alun2 utara (deket bakmi pele) menghadap ke barat daya. Waktu itu menjelang maghrib, suasana sekaten, mataharinya keliatan merah banget dibungkus langit biru gelap, lengkap dengan lampu khas kota jogja yang warnanya ijo, penuh lekukan tanpa sudut. Soundscape nya ada musik house yang diputer di ombak banyu, suara teriakan orang2 yang naik, suara setan di rumah hantu, suara motor di tong stand, suara adzan maghrib dari masjid. (aku menggambarkan sebisaku, kebayang nggak ya?) Nah entah kenapa disitu mengharukan banget suasananya. Aku berpikir, ini lho Jogja ! Suasana semacam ini yang bakal tak kangenin besok di Jakarta :')
(dan mulai saat itu, sudut pandang alun2 utara dari angkringan itu jadi tempat yang sakral bagiku ehehe :D)
Jakarta tampaknya menantang untuk ditaklukkan, pikirku. Kaya apa sih Ibukota, yang katanya jauh lebih kejam daripada Ibu tiri itu? Memang aku berencana datang dan numpang hidup di sana untuk mencari konflik. Mengubah ketidaknyamanan menjadi zona nyaman baru melalui serangkaian proses yang aku yakin akan sangat memperkaya kualitas diri seorang manusia.
Berat memang meninggalkan Jogja dengan segala kenyamanan, kenangan, dan orang2 yang aku sayang di sini, berat banget. Tapi ini yang namanya hidup bro. Nggak ada manfaatnya kalo cuma diem di zona nyaman kita. "To discover something new, that's why life is beautiful, isn't it?"
Well, that's my blueprint, guys :D
Itulah sekelumit cerita, gagasan dan pertimbangan tentang kenapa filfafat dan Jakarta yang akan mengisi hati saya beberapa tahun ke depan hahaha :D
Kepastiannya baru akan kudapat tanggal 30 Juni besok, minta doanya yaa :D
*Anggap saja tulisan ini merupakan pertanggungjawaban keputusan saya kepada orang tua (sing omahe tak tunuti urip karo mangan 18 taun iki :p), banyak teman yang mempertanyakan keputusan radikal ini (ben ora kemeng le njelaske), dan sukur alhamdulillah kalo bisa jadi manfaat buat kamu, kamu, dan kamu yang membaca :)
Jogja, 18 Juni 2011
00.43
No comments:
Post a Comment