Saturday, March 10, 2012

Manusia Sempurna

Dia terlahir sebagai seorang manusia yang sempurna. Coba kalian sebut apa saja hal yang paling kalian inginkan. Semua dia punya.

Kata orang, manusia tidak ada yang sempurna, tapi tidak dengan dia. Dia seakan bisa merusak kalimat "kesempurnaan hanya milik Tuhan". Ketika ada orang masih kesulitan untuk sekedar mencari lauk makan siang, ia sibuk memilih makanan mana yang akan dimakan, dan mana yang akan dibuang. Meja makannya selalu penuh, bahkan dengan makanan yang tidak ingin ia makan. Ketika ada orang yang mencari kerja sana-sini untuk membeli kendaraan, ia akan sibuk memilih mobil mana yang ingin ia pakai dari garasi yang seukuran lapangan sepakbola miliknya.

Ketika ada orang yang selalu kesepian, dia sering bingung akan mengajak teman yang mana untuk diajak pergi. Ketika ada orang merasa sedih dengan keadaan keluarga yang tidak nyaman, dia punya banyak waktu untuk memilih pergi dari rumah, yang penuh dengan kebahagiaan keluarga sempurna.

Dimana-mana ia dipuja, tapi tidak ada yang pernah mengerti mengapa. Mungkin karena wajah, ketenaran, harta, atau kepandaian yang ia miliki. Ia memiliki daya tarik luar biasa, yang bisa membuat orang yang tidak mengenalnya sekalipun merasa senang berada di dekatnya.

Sempurna. Hidupnya begitu sempurna.

Tapi sekali lagi, ia juga manusia. Manusia yang punya sifat tidak pernah puas. Mungkin bagi orang lain, tidak puas itu biasa, tapi bagi manusia sempurna seperti dia, tidak puas bukanlah suatu hal yang bisa dianggap biasa.

Dia sudah tidak bisa merasakan nikmatnya menu makan malam sebuah hotel bintang 5, karena terlalu sering mencecap makanan dengan kelezatan sempurna. Dia sudah tidak bisa merasakan nikmatnya pergi dengan mobil mewah, karena terlalu sering berkendara menggunakan mobil dengan kemewahan sempurna.

Dia sudah tidak bisa merasakan indahnya matahari pagi, karena matahari yang ia punya jauh lebih sempurna dari yang orang lain lihat setiap hari. Dia sudah tidak bisa merasakan semangat hidup, karena hidup yang ia punya jauh lebih sempurna daripada orang lain.

Dia tidak puas akan kesempurnaan yang dimilikinya.

Sampai pada suatu hari, ia melihat seseorang yang belum pernah dilihat dalam hidup sempurnanya.

Dia melihat manusia tidak sempurna. Orang yang punya hidup berkebalikan 180 derajat dengan dia. Awalnya ia berpikir itu hanya kebetulan. Tapi ternyata tidak. Ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan manusia tidak sempurna itu.

Dia begitu heran, kenapa masih ada orang yang mau bekerja pontang-panting untuk bisa menyekolahkan anaknya? Kenapa masih ada orang yang mau sekolah?

Tiap melongok keluar jendela rumah (atau lebih tepat disebut sebagai istana), dia selalu penasaran. Penasaran dengan manusia berbaju lusuh yang sedang mencari-cari sesuatu di tempat sampah. Apakah di tempat sampah itu ada kebahagiaan? Apakah di tempat sampah itu ada kesempurnaan?

Dan anehnya, sejak saat itu tempat sampahnya selalu didatangi manusia berbaju lusuh, setiap hari. Setiap hari pula dia melongok dari jendela untuk mencari tahu kenapa. Dia melakukan hal itu, sampai suatu hari rasa penasarannya tidak dapat ia bendung lagi.

Dia turun dan segera mendekati tempat sampah. Sebentar kemudian, manusia berbaju lusuh itu datang. Seketika itu pula manusia berbaju lusuh itu mencari sesuatu di tempat sampahnya.

"Hei kamu! Siapa kamu? Apa yang kamu cari di tempat sampah itu?" Kata dia.

".................", manusia berbaju lusuh seakan tidak dengar dan melanjutkan pencariannya.

"Hei saya bertanya kepada anda!" Kata dia sambil mendekat, berharap mendapat jawaban dari manusia berbaju lusuh itu.

"................."

"Sebenarnya apa yang kamu cari?! Apakah di tempat sampah ini ada kebahagiaan?! Apakah di tempat sampah ini ada kesempurnaan?!"

Bukannya memberi jawaban, manusia berbaju lusuh itu malah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia kembali masuk ke rumah dengan bagitu banyak tanda tanya besar dalam pikirannya.


***


Semenjak petemuannya dengan manusia berbaju lusuh itu, dia banyak berpikir. Banyak merenung tentang kesempurnaan yang ia miliki. Ia terus berpikir, hingga lelah dan tertidur. Setiap hari ia memikirkannya, dan tertidur. Sampai akhirnya ia bertekad untuk mencari jawaban, meskipun harus mengelilingi dunia untuk mendapatkannya.

Dia pergi dari rumah, meninggalkan makanan sempurna yang selalu terhidang di atas meja makannya. Meninggalkan semua mobil dengan kemewahan sempurna di garasinya. Meninggalkan kebahagiaan sempurna dalam keluarganya. Ya, dia pergi tanpa membawa apapun.

Dia berjalan dan terus berjalan, berharap menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Di sepanjang perjalanan, dia melihat banyak manusia tidak sempurna berkeliaran. Ada yang saling membunuh karena berebut sebungkus nasi, ada yang mencuri uang receh dari manusia tidak sempurna lain untuk membeli mainan. Ketika melihat kejadian-kejadian tersebut, dia selalu takut, dan selalu berlari dalam ketakutannya.

Dia berlari dan terus berlari. Entah sudah berapa tahun ia berlari. Dia sudah tidak bisa merasakan lapar dan haus. Dia sudah tidak bisa merasa lelah. Sampai akhirnya ia sampai di ujung dunia, sebuah bukit yang tidak ada lembahnya lagi. Ia melihat, begitu gelap lubang di ujung dunia itu.

Dia tidak tahu lagi harus kemana mencari jawaban. Tapi entah kenapa, di ujung dunia itu ia bisa melihat terbitnya matahari. Matahari yang berbeda dari kepunyaannya. Matahari yang dilihatnya itu tidak sempurna. Tapi aneh, ia bisa puas melihat ketidaksempurnaan itu.

Setelah beberapa lama, ia duduk dan tersenyum. Akhirnya ia mendapat jawaban.

Jawaban bahwa manusia sempurna adalah manusia yang dengan rendah hati tidak pernah merasa sempurna dalam menjalani hidup sempurna miliknya.



Jogja, 22 Juli 2010 / 17:18

No comments:

Post a Comment