Thursday, September 5, 2013

Titik.

Dari sudut ruangan itu, aku melihatnya.
Tertawa, dikelilingi kebahagiaan.
Bersama para sahabat yang betul menyayanginya.

Lama. Aku tak lagi peduli sekitar.
Yang kulihat hanya dia, dengan senyum yang memang miliknya.
Aku menangis dalam hati. Tidak tahu apa yang terjadi.

Sebelumnya, akulah yang biasa melakukannya.
Kini, aku hanya bisa memandang betapa bahagianya dia dari kejauhan.
Dari sudut ruangan, sendiri, tak punya pegangan lagi.
Mungkin ia yang biasa menjadi pegangan, sudah berproses menjadi sesuatu yang lain.

Aku telah terbiasa berjalan berdampingan dengannya.
Kini aku mulai membiasakan diri untuk berjalan di belakangnya.
Ketika banyak sosok lain hadir sebagai penjaga dan penyedia tawa baginya.

Mungkin aku hanya tak terbiasa.
Mungkin peran memang memiliki masa kadaluarsa.
Mungkin aku hanya takut, kini tiba masaku.

Yang kuingat, hanyalah ia yang sudah tidak lagi kukenal.
Mungkin, masalah peran hanyalah sebuah titik kecil dalam daur hidup yang harus dijalani.
Untuk bisa sampai ke titik yang selanjutnya.

Wednesday, August 21, 2013

Janji

Cahaya semburat keemasan itu kini jatuh menutupi dadaku. Seolah melapisinya dengan warna emas yang menyilaukan. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan stabil 40km/jam. Lagu "One" milik depapepe sudah setengah jalan mengalun di gendang telingaku. Tiba-tiba cahaya itu hilang. Langitnya mendung, tapi tidak terlihat ingin memuntahkan hujan.

Setiap kali, selalu sama. Setelah jalan panjang dengan sawah di kiri-kanannya, tikungan ke kiri, tempat pembuangan sampah di kanan jalan, pemutar laguku seolah mempunyai auto-pick. Dan entah kenapa, yang dipilih adalah One. Mungkin lagu ini memang akrab dengan tempat ini. Aku pernah menggunakannya sebagai lagu kemenangan waktu itu. Waktu aku berjalan kaki dari sekolah ke rumah untuk merayakan kelulusanku. Ya, mungkin pemutar musikku juga terkenang dengan peristiwa itu.

Melewati jalan ini seperti melewati lorong waktu. Dimana semua kenangan terpasak di kiri-kanannya.

Hehehe. Aku tertawa kecil.

Aku bukanlah  seorang penggemar berat kenangan. Tapi melihatnya selalu menerbitkan senyum di sudut bibirku. Kuperlambat laju sepeda motorku. Aku melihat ke kiri dan kanan. Menikmatinya. Semua fragmen  kenangan itu dibalut dengan frame ukiran kayu yang sangat indah. Seperti ukiran kayu kereta kencana milik raja-raja di tanah jawa terdahulu. Huahaha. Aku kembali tertawa. Bahkan alam bawah sadarku menghiasnya dengan sedemikian rupa. Memang semua hal ini tidak bisa lepas dari diriku ternyata.

Kulihat ke atas, angin timur telah meniup jauh awan yang tadi menyelimuti matahari. Kini ia terlihat jelas. Megah, menguasai samudera langit biru dengan sinarnya.

Aku mengamatinya dengan seksama sambil menyeka bulir keringat di dahiku. Kau terlalu panas kali ini, sobat. Sebentar kemudian aku mengucapkan salam perpisahanku padanya.

"Aku pergi dulu. Tidak tahu kapan akan kembali lagi. Kutitipkan padamu segala yang pernah ada padaku di tempat ini. Kuharap kau benar-benar menjaganya, agar kelak aku bisa kemari lagi dan merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan sekarang ini. Di sini."

Ia diam saja. Aku mengartikannya sebagai iya.
Kalaupun tidak, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Waktuku memang sudah habis di sini.
Kulihat jalan di depanku. Pemutar musikku sudah tidak mengeluarkan suara. Sepertinya baterainya habis.
Kini cahaya semburat keemasan itu menimpa punggungku. Aku membelakangi semua yang pernah aku hadapi. Kupacu laju sepeda motorku.

Aku pergi dari tempat ini. Dengan sebuah janji untuk kembali. Suatu hari nanti.


Saturday, May 25, 2013

Buat Sahabat Playgroup-ku..

Tulisan ini seharusnya sudah lahir setahun yang lalu.
Iya, waktu itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri padahal.
Tapi banyaknya distraksi waktu itu (entah kesibukan yang penting maupun tidak) membuat tulisan ini masih harus kukandung setahun lamanya.

***

Untuk yang jauh di Belanda sana..
Rasanya baru kemarin kita tertawa bersama di bak pasir playgroup Yogya Kids.
Rasanya baru kemarin aku nggumun melihat bule yang fasih berbahasa jawa.
Rasanya baru kemarin kita tidur bareng pas istirahat kedua.
Rasanya baru kemarin kita ngecu pak puji barengan.

Alah. Cen wektu ki rasane cepet banget yo, dab =))



Kamu temen playgroupku, Mar. Aku kenal koe ket iseh jomblo (baca: umur 3 tahun). Habis lulus playgroup, aku ra reti koe nengdi. Sempet lupa juga sih Omar ki sopo (sori tenan nek iki). Sampe aku inget, koe tau dolan neng Yogya Kids pas kelas 4 sd nek ra salah. Pas kui koe wes duwur banget. Terus kita berpisah lagi, baru ketemu pas SMA.

Yoi, buat yang percaya garisan takdir, kita dipertemukan lagi. (aku ngerti nek koe ra percoyo, Mar)
Proses di SMA ini............yaudah lah ya gitu pokoknya :'

Banyak obrolan, pemikiran, sesi dolan, mabuk-sampe-tidur-meluk-pot dan sebagainya yang tercipta.


Aku selalu ngerasa kamu itu penyeimbangku, Mar.
Sepemikiran di satu sisi, tapi juga dengan keras beda idealisme di lain sisi.
Sampai sekarang, jujur aku belum nemuin temen mikir yang se-sefrekuensi kamu.

Sekarang koe sing asu banget wes menyang londo disikan. Aku tep bakal nyusul suatu saat.

Dulu pas masih deket (secara jarak geografis), kamu bisa jadi temen diskusi yang yahud. Masalah temen lah, organisasi lah, klub mobil lah, dari sc 234 sampe pemuda pancasila lah. Data anak eksis Jogja-Jakarta kamu punya lengkap.




Nah sekarang?

Aku sok ngepo koe, dab.
Dan di akhir tiap sesinya, pasti ada unsur "asu lah Omar wes melakukan a melakukan b, pencapaian a pencapaian b, sementara aku neng kene mung ngene2 wae uripe" di pikiranku.

Setelah liat apa yang sudah kau 'kerjakan' di sana, aku punya harapan baru yang (seenggaknya) bisa menjadi motivasi untuk 'berbuat lebih' di sini.

Bukan minder sih sebenernya, tapi ya reflektif gitu. (Yoi reflektif. Cah DeBritto to, dab?)

Hehehe.

Itulah letak kesangaranmu buatku, Mar. Koyone yo wes adoh tenan, ra berhubungan karo aku. Tur dampaknya masih sangat kerasa.

Prosesnya masih berlangsung (dan mungkin akan terus berlangsung sampe kapanpun). Sepertinya kita diajarkan oleh semesta, melalui bentuk persahabatan yang seperti ini. Sing asu-asu nan tur tetep kenthel. Adoh jarake tur tetep cedak uripe.

Kolaborasi terkhir kita: Festival Musik Tembi 2011

***

Setaun yang lalu, ketika aku melewatkan momen untuk bisa nulis ini, bahkan aku ga mau ngucapin selamat ulang tahun. Anggap aja itu janji yang akan terealisasi melalui tulisan ini.




Happy birthday my brother,
Omar Adrian Rozak.







*p.s: sori telat, kene ki wong sibuk e. Seadanya ya tulisannya, nek ra trimo gelut wae kene.



Tuesday, March 26, 2013

Iblis

Kau memelihara Iblis dalam dirimu.
Kau merestui adanya dalammu karena memang kau butuh.
Kau butuh ia. Kau butuh kekuatannya.
Kau butuh bengisnya tuk menguatkanmu.
Sehingga perjanjian darah itu tercipta.

Kau memelihara Iblis dalam dirimu.
Meskipun kau sebenarnya tak mau.
Karena kau tahu, suatu saat ia tidak akan puas
hanya menjadi bagian dari dirimu.
Meskipun kau sebenarnya takut.
Takut ia akan lepas suatu hari nanti,
kemudian mempengaruhi,
menguasai,
dan merubahmu menjadi sesuatu lain
yang tak kau ingini.

Kau memelihara Iblis dalam dirimu
karena kau bahagia.
Ataukah mungkin,
ia adalah kebahagiaan itu sendiri.

Friday, January 4, 2013

!!!

Ketika kau tak bisa rengkuh kebahagiaan dalam skala besar,
cobalah menggapainya melalui jalan kecil yang seringkali kau abaikan.

..karena tidak peduli besar atau kecil skalanya, bahagia tetaplah bahagia.
Yang memanusiakan.