Monday, October 8, 2012

Surat Yang Tak Pernah Sampai.

"I walk alone in the beach sand, and I don't know which way to go.."

Sekarang langit senja sudah memerah, Sya. Ia selalu tampak tersenyum. Aku berjalan meniti garis bersama bulir pasir dan deburan ombak. Ya. Tempat-wajib-Sabtu-minggu-ke-empat kita. Entah kenapa aku masih ingin mampir ke sini. Meski tanpamu.

Mungkin karena hanya di sinilah aku bisa menganggapmu ada. Dan menghabiskan sejengkal waktu untuk melupakan kesehari-harian. Pada titik ini, aku yakin kamu sudah memasang ekspresi datarmu yang tersohor itu karena sudah mual mendengar kisah permusuhanku dengan rutinitas. Tapi dalam mode datar pun kau tetap bisa menghafal tiap detil kisah itu. Dan aku selalu kagum dengan "kemampuan"mu ini.

"..I left my heart in this island, but I should take it slow.."

Hei, kau tau? Mungkin apa yang pernah kau sampaikan di ujung perjumpaan kita memang benar, Sya. Hatiku sudah membiru. Terkunci rapat di tempat yang bahkan aku sendiri tak mampu menggapainya. Cuma kau dengan keceriaanmu saja yang dapat menemukannya. Tanpa peta dan kompas. Sejak kutahu cuma kamu yang punya kuncinya, aku tidak pernah tergesa-gesa untuk membukanya. Tahu kenapa? Karena kuyakin kamu pasti datang, membukanya di saat yang tepat, mengobrol dengannya, dan menguncinya lagi saat ketika memang ia ingin kembali.

"..Now I go straight to the ocean, swimming and dancing in the sea.."

Aku masih ingat betul bagaimana dengan mudahnya air matamu meleleh ketika melihatku tersengat ubur-ubur waktu itu. Memang sabtu di bulan Juli tidak pernah bersahabat dengan kita, para pecinta air. Aneh juga, ketika yang dinaungi Aquarius cuma kamu, tapi aku ikut hanyut untuk mencintai air juga. Kalau mode datarmu keluar jika aku mulai berceloteh mengenai permusuhanku dengan rutinitas, milikku akan keluar ketika kau menceritakan betapa besar cintamu terhadap air.

"Kenapa kamu suka ke pantai?" tanyaku waktu itu.
"Karena aku suka air. Dan air laut itu air hidup.. Ngga kaya air hujan. Mati." jawabmu sambil memandang jauh.
"Bukan mati dong.. Kamu tau syarat sebuah benda untuk bisa dikatakan mati?"
"Ah mulai deh..ngga tauuuuu, ngga mau tauuuuuuuu." katamu sambil menutup telinga dengan wajah jutek.
"Mati itu berarti dia pernah hidup. Ya kan? Sedangkan kalo kamu menyebut air hujan mati, berarti dia pernah hidup dong?" lanjutku sengaja memancing keributan.
"IYAAAAA IYAAAA TERSERAAAAHHH."

Kemudian kita hanya tertawa. Tertawa dan tertawa memecah suara deburan ombak senja.

Katamu air hujan tidak hidup seperti air laut. Tapi tetap saja girangmu tak bisa ditahan ketika melihat hujan. Seperti seorang groupies yang bertemu rockstar idola. Dan kau tak pernah memikirkan yang lain ketika memuja hujan. Masih ingat ketika kau memaksaku untuk menemanimu berlari-lari di tengah hujan di depan rumahmu? Padahal 5 menit sebelumnya kau mengeluhkan pilek yang tak kunjung sembuh. Lalu esoknya terpaksa aku harus menjagamu yang demam? Yang ingusmu jadi senjata ampuh buat menakutiku? Yang sejak saat itu aku phobia ingus? Ingat kan? Ah, mana mungkin kau lupa, Sya.

"..Hey don't worry i'll find my way home, back to you and our family.."

Andaikan aku masih bisa kembali. Bersamamu. Mungkin hari ini pun kita akan datang berdua kesini. Setelah berburu cilok kesukaanmu itu, seperti biasanya. Mungkin kita akan saling tidak memberi kabar, namun selalu bertemu di waktu dan tempat yang sama, seperti biasanya. Mungkin kita akan selalu menunda waktu kepulangan karena masih belum sepakat tentang jumlah bintang yang bertaburan di langit malam itu, seperti biasanya. Mungkin. Ya. Mungkin.

Mungkin kau masih menungguku. Iya kan, Sya?
Tenang saja, aku pasti akan kembali.

"..I'm trying to be strong, I'm here standing alone
..But it's time for me to face the future.."

Tadinya, kukira masa depanku adalah apapun yang bersamamu. Tapi garis hidup menggambarkannya secara berbeda, ternyata. Bahkan ia yang sekarang terlalu asing buatku. Hidupku sudah tak sama lagi, Sya. Aku sudah berkawan dengan kesunyian. Kebal sepi dalam keramaian. Tapi yang aku yakin paling melegakanmu: aku sudah berhenti merokok. Iya, Sya. Aku berhenti merokok. Dan alasannya bukan karena marahmu. Atau lelahku membohongimu.

Dulu, tak bisa kubayangkan duduk sendiri. Sampai beberapa jam berlalu. Tanpa ditemani nikotin.
Sekarang, bahkan tak ingin aku merasakannya mampir di kerongkonganku. Aku lebih ingin kau yang mengendap di paru-paruku. Supaya bisa selalu ada dalam tiap hembus nafasku.

Ini semua karena kamu, Sya.
Siapa yang mengira, hari besarmu datang jauh sebelum kau tahu.
Sebelum aku siap ada tanpamu?

"..I promise to come back, and I hope that you remember me.."

Angin senja berhembus kencang. Suara ombak masih menjadi harmoni paling merdu yang mungkin ada. Langit semakin merah. Semburat kuning matahari memberi aksen indah pada cakrawala.

Ya. Di sinilah aku sekarang. Duduk di atas pasir. Dengan kaki yang sesekali disentuh ombak. Bersama dengan 4 kaleng bir yang sudah kosong.

Entah apa yang membuatku ingin menulis surat ini. Tapi aku ingin. Meski tak tahu mengapa.
Tadinya kurencanakan hanya sebaris-dua baris isinya. Sekedar mengobati kangenku bercakap denganmu. Namun ketika akhirnya jadi sepanjang ini, tak apa lah. Toh panjang ataupun pendek, kutahu bahwa surat ini tak akan pernah kau baca. Tak akan pernah bisa sampai ke tanganmu.

Aku juga tak tahu mau kuapakan surat ini setelah jadi. Mungkin kukubur dalam pasir, berharap suatu saat nanti kau kan datang dan menemukannya (meskipun aku tahu betul kau tak kan bisa). Atau mungkin akan kulipat menjadi perahu kertas kemudian kuhanyutkan ke laut? Ah, ini bukan novel Dewi Lestari. Lagipula, surat ini bukan untuk Neptunus.

"..I promise to come back, and I hope that you remember me..
........as yours."



*Song lyrics taken from "Remember Me" - Endah n Rhesa

Depok, 8 Oktober 2012
00.04




1 comment:

  1. Yah, kadang memang sesuatu itu lebih baik disimpan sendiri, daripada diutarakan pada orang yang bersangkutan :)
    Semoga deru ombak mengikis lara lah..

    ReplyDelete