Wednesday, March 19, 2025

Satu Hari, Satu Kabar Buruk

Setiap pulang kantor, di jalan pulang, di mrt, scrolling2 ig

Selalu ada kabar buruk yang kulihat

Korupsi pertamina

Korupsi antam

Kelangkaan elpiji

RUU TNI

Yang dibahas tertutup

Tengah malam

Di hotel fairmont (3 kalimat lucu)

Rupiah melemah

Setoran pajak turun

Pungutan thr ormas

Band yg dicegat di jalan terus disuruh minta maaf karena bikin lagu yg mencela polisi

TNI mukulin polisi

TNI nembak polisi di Lampung

IHSG disuspend, lalu divisit Dasco (bangke disidak dikira pasar tradisional)

Makin banyak orang yg ditunjuk, bukan dipilih rakyat

Vokalis band yg ditunjuk jadi Dirut PT Produksi Film Negara


Masih mau bilang ngga gelap?


“Ah ngapain koar2 doang di sosmed?”


Bro, itu tahap pertama. Harus ada keresahan kolektif dulu baru bisa eskalasi. Turun ke jalan, public disobedience, itu step2 selanjutnya. Tapi harus ada kesadaran kolektif dulu. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Bahwa ada yang harus diubah. Entah caranya apa nantinya.


Aku tidak mau bersembunyi di balik segelas kopi tomoro yg aku minum tiap hari

Di balik macbook yg aku tenteng tiap hari di kantor

Di balik postingan2 lari yang setiap hari aku bagikan

Di balik nyamannya hidup yg aku miliki saat ini


Pun akhirnya senyaman apapun hidupku hari ini, keresahan itu tetap datang setiap aku pulang kantor, melalui kabar buruk kabar buruk yang selalu berseliweran di timelineku.


Kenapa bisa seresah itu? Karena suatu hari aku mau punya anak. Dan aku tidak mau mewariskan dunia yang seburuk ini untuknya kelak.


Jadi mari bagikan satu kabar buruk setiap hari, supaya muncul kesadaran kolektif. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dan kita tetap bisa berjuang, dalam rutinitas kita masing-masing.


Jakarta, 19 Maret 2025

19.21


Saturday, June 8, 2024

The End.

I always imagine, what the end will look like

It will come with a burst of emotion

A fire

Explosion like a hydrogen bomb that destroys all of our buildings

The foundation that we’ve built together for a long time

It will come with a big argument

Where I defend mine

And you defend yours

Then we left that talk with a 200kg burden in our chest

It will come with a big bang

But instead of giving birth to life like in science

This one in reverse,

Will suck out life from every being

It will absorb all the light in my universe

What remains is a total darkness

Endless horizon with no appetite


That’s what I always ever imagined.

Turns out, I was wrong


It never comes with that grande spectacles

Instead

It comes with small steps

The ones that you never realize

Until suddenly you are on a completely different side of the world

It comes slowly

With expectation that one by one didn’t meet

It comes along with days when you want to be together, but turns out cannot

It comes along with you fighting your own battle

That you tried to share, to relieve a bit of the pressure

But you decided not to

Because you know exactly what that will end with

And you continue your life

With happiness that you seek elsewhere

Because of the difference

Up until a point where it’s pointless

Not because that you aren’t happy together

But because that mutual happiness circle becomes smaller, and smaller

Emotionally disconnected


Nothing left.


Different from what I imagined before,

The end comes with a peaceful intent

That you want to move on with your life


Jakarta, 3rd March 2024

15.22

Wednesday, April 10, 2024

Rumah

Kepulanganku yang kali ini terasa berbeda
Entah karena apa
Aku merasa akan berpisah dengan sesuatu
atau seseorang
atau perasaan

Di jalan ketika mendengar Time To Rest Your Weary Head
Tenggorokanku tercekat
Sambil melihat matahari turun ke peraduan
Dari jendela kereta bandara

Pun dengan delay 3 jam khas maskapai LCC
Sehingga tiket kereta bandara YIA ke stasiun tugu hangus
karena kemalaman
Akhirnya jam 12 malam baru duduk di taksi

Aku kembali termenung
Meski mas Hendra sang supir taksi terus mengajak ngobrol dengan ramah
tanda bahwa aku sudah dekat rumah
Aku seperti enggan untuk terlibat
lebih ingin untuk diam dan melamun saja
Seiring mobil yang melaju konstan 70km per jam

Jam tepat menunjukkan pukul 00.45 ketika aku masuk rumah
Bapak menyambut di teras rumah
Ibu di dalam masih mengerjakan kue
Adik-adik di dalam kamar seperti biasa
Aku cium tangan dan peluk satu-satu
Hanya tiga bulan tapi terasa lama sekali
Sejak aku terakhir ke sini

Tangisku pecah malam itu
Aku bercerita bagaimana di luar sana orang diperlakukan
Tidak seperti bagaimana aku diajarkan memperlakukan orang
oleh bapak ibuku
Aku bercerita bagaimana malam itu aku terkena panic attack
karena takut sendirian
Aku bercerita bagaimana aku stuck di 2/3 hidupku
Kami ngobrol sampai jam 4.30 pagi itu

Ternyata sekuat apapun diriku
Aku masih seorang anak itu
Yang sering tidak pulang
Tapi selalu butuh untuk menceritakan keherananku pada dunia
Ke mereka yang ada di rumah

Dan aku diingatkan hari ini
Seberapa pun berat hidup
Pada akhirnya
Di tengah tangis dan pelukan ibu
Semua baik-baik saja.

Jogja, 10 April 2024
08.56

Wednesday, March 20, 2024

Sajak

Aku hidup di dalam sajak
Yang manis di tulisan, meski hambar di kenyataan
Yang penuh kata-kata indah
Yang bisa membuat dada terasa penuh
Dengan rasa dan makna

Duniaku terbuat dari diksi dan rima
Yang berkelindan
Menceritakan peristiwa
Orang
dan perasaan

Di setiap akhir hari yang letih
Aku selalu bisa berteduh
Dalam rangkaian kata
Meringkukkan badan
Dan menutup mata dengan tenang

Kalau boleh memilih,
Aku ingin hidup seperti ini saja
Sebagai orang pertama serba tahu
Pelaku utama dalam ceritaku sendiri

Seperti tadi ketika aku di jalan
Ada pohon yang ditebang
Lalu dari tumpukan dahan dan ranting
Muncul kupu-kupu bersayap oranye
Yang kemudian mengelilingiku dua kali
Sebelum terbang tinggi ke arah kiri
Sungguh puitis

Padahal ketika mengingat lagi
Tidak ada yang istimewa dari kejadian itu
Kalau aku tidak hidup di dalam sajak


Jakarta, 20 Maret 2024
09.41

Tuesday, March 19, 2024

Ibukota

Jakarta itu penuh dosa

Jakarta berhak untuk macet

Jakarta berhak untuk orang-orang yang menjadi sarden di kereta

Yang rumahnya di Parung tapi kantornya di SCBD

Jakarta berhak untuk tanah semeter 60 juta

Jakarta berhak untuk polusi

Karena ia rumah dari 23 juta kendaraan bermotor

Yang sampai-sampai harus diatur

Mana yang boleh, mana yang tidak

Dari ganjil genap nomor belakangnya

Sehingga orang akan punya dua

Untuk bisa dipakai setiap hari


Jakarta itu tidak manusiawi

Sampai-sampai Seno membuat esai

 

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma)


Ia dibilang penyangga perekonomian negara

Padahal lebih ke arah disanggakan

Kisah klasik sentralisasi

Di mana yang dipinggir ya karena memang dipinggirkan

Sampai waktu itu, ada kementrian desa tertinggal

Karena toh 70% uang di republik ini

Hanya berputar di satu jalan itu saja

Mulai dari Bundaran HI

Lewat Mid Plaza

Mentok-mentok ke Senayan

Mampir ke kantong-kantong perwakilan

*

Makanya aku heran pagi-pagi

Karena Jakarta tidak berhak atas langit seindah ini



Sebenarnya aku ingin bengong melihatnya lama-lama

Tapi aku terburu-buru

Kulangkahkan kaki dengan cepat

Sambil mematikan rokok

Untuk segera tap in dan daily standup


Jakarta, 19 Maret 2024

20.12


Thursday, February 22, 2024

On a second thought

Those people who gave up

They are not lesser than you

If you think they are being coward

Compared to you, who

"Stand until the end of the line"

Oh boy, you might be very wrong

Because you don't know what battle that they have fought

Just for them to be as half as good as you

Also, quitting might be the most responsible thing that you can do

Especially when you are the problem.


Jakarta, 22 Feb 2024

19.30

Saturday, February 17, 2024

Semarah Itu

Jumat, 16 Februari 2024, jam 18.00, kondisi masih di kantor utk menunggu hilal untuk pulang. Scroll2 IG, ada story @kiranakarang yg mengunggah postingan harian kompas tentang aksi kamisan.


Melihat komen2nya, seketika triggered. Patah hati. Mual. Emosi.


A demon woke up inside of me. Yang selama ini mencoba untuk diam dan tidak terlalu banyak berkomentar serius tentang pilpres. Aku percaya semua orang have a thing that they really hold close in their heart. Yang ga bisa disenggol dikit. Mine? human rights. Kenapa? Karena itu satu dari sedikit (if not the only) hal di dunia yang absolut, baik, dan inklusif. You cannot really oppose human right. Akal sehat bro. And these comments really pissed me off. Yang tadinya udah kepikiran pulang, kemudian ngulik2 lagi untuk memberikan respon di IG story.

quote by Marx, Economic and Philosophical Manuscripts of 1844



Mocking Kamisan is off the line. Apalagi mengaitkan dengan konteks sedangkal pilpres. "Kalo paslon lain yg menang ga bakal demo gini". Bro, 2007, dari jaman SBY presiden. Dari wapresmu umur 20 tahun masih kuliah ngejar IPK 2 koma itu, aksi Kamisan ini sudah ada. Di hati kecil aku tahu bahwa ini komen2 buzzer, bagian dari mesin propaganda pihak2 tertentu. Yang on default buatku tidak perlu ditanggapi. Tapi ini entah kenapa benar2 triggering.

So many issue you guys can play with, but playing with human rights, you will awoken a different breed of social movement. We will show you what a real silent majority is. And there will be a moment where we won't be silent anymore. I dare you, I double dare you.

98 Soeharto bisa diturunkan karena banyak orang "kesenggol" karena masalah KKN, otoritarian, kekacauan ekonomi yang menyebabkan harga bahan2 pokok melambung tinggi. Masalah melahirkan kegelisahan, kegelisahan melahirkan amarah, amarah melahirkan urgensi untuk turun ke jalan. Hanya saja, kembali pada kalimatku di atas, trigger orang beda2. Kamisan ini juga lahir dari peristiwa 98. Bayangkan aja, sebagai seorang ibu, anakmu pamit dari rumah untuk kuliah. Lalu ia ikut berjuang di jalan untuk hal yang benar, menuntut perubahan ke arah yang lebih baik. Bahkan ia berperan sebagai medis, membantu para para demonstran yang dihujani tembakan dan gas air mata. Lalu ia tak pernah pulang. Ditembak peluru tajam di dada kiri. Bagaimana perasaanmu sebagai ibu? Anak yang kamu lahirkan dari rahimmu, diperlakukan seperti itu, tanpa ada pertanggungjawaban. Tanpa ada permintaan maaf. Bahkan ketika kamu memutuskan bersekutu dan berdiri diam, melakukan aksi damai setiap kamis sore selama 805 minggu (dan masih akan terus bertambah) di depan istana negara. Simbol dari kekuasaan yang sudah seharusnya bertanggung jawab terhadap itu. 17 Tahun, tidak sekalipun, siapapun yang berkuasa sudi untuk sekedar menyeberang jalan dan menemui mereka. Lalu ini ada remah-remah gorengan warteg ngetik dengan enteng "masih aja terjebak masa lalu, gimana mau maju kalo mikir masa lalu terus". Stunting abis.

Di tengah kegeramanku kemarin, iseng kutanya teman kantorku, pemuda kelahiran 1998 pemilih prabowo, apakah dia tau Kamisan atau engga. Engga tahu ternyata. Aku terdiam. Mungkin benar, survey yg bilang pemilih prabowo justru banyak dari kalangan anak muda. Mereka baru lahir, atau bahkan mungkin belum, ketika peristiwa 98 terjadi. Mereka tidak pernah hidup di era orde baru, di mana kebebasan untuk sekedar berkumpul, berbicara dan berserikat itu jadi hal yang mewah. Perkara bawa buku tentang marxism ke sekolah bisa jadi masalah besar yang mengancam nyawa. Sekarang aku bisa dengan bebas diskusi tentang hal-hal itu di kantin kantor. Bisa bawa dan minjemin buku-buku filsafat ke temen kantor untuk berbagi ilmu. It is a previledge of democracy. Yang bisa kita nikmati karena dulu ada orang2 yang berjuang untuk itu. Bertaruh nyawa. Tidak sedikit, mengorbankannya, seperti Wawan yang ibunya selalu ada di aksi Kamisan itu. Itu yang kita sering lupa di tengah kesibukan kita untuk bertahan hidup sehari-hari. Kita yang mengalami saja sering lupa, bagaimana dengan yang tidak pernah mengalami, seperti temanku tadi. They cannot even imagine.

As much as having a president who used as a genocide case study on Yale University is concerning for me, this is not about the person.

Bukan masalah orangnya, tapi apa yang dia lakukan, apa yang dia simbolkan dari kelakuannya. Because we need to trust people from what they do instead of what they said. Ini yang menurutku masih jadi akar masalah politik praktis di Indonesia. Semuanya masih fokus pada person. Bukan ideologi dan gagasan yang dibawa. Semua partai politik juga "figur"atif. PDIP = Megawati, Nasdem = Surya Paloh, Demokrat = SBY, dst dst. Ideologi partai itu jadi sekedar buzzword. Demonstrasi ideologi paling bagus justru dari partai seperti PKS malah. Seperti menolak RUU TPKS, as jerk as it may seem for some of us, tapi ya mereka konsisten. Itu posisi yang paling dekat dengan ideologi islamic state yang mereka tawarkan. Homogen, serba mengekang dan patriarki. At least mereka konsisten. I respect them, dalam koridor demokrasi. Jadi sekali lagi, ini bukan tentang personnya. Tapi pejabat publik, apalagi presiden, harus bisa dilihat bukan sebagai individunya, tapi visi misi, gagasan, sektor apa yang mau dia fokuskan, masalah apa yang dia bisa (atau mau) selesaikan. "Jokowi bisa ikut kampanye tapi harus izin cuti pada presiden", selucu dan seabsurd apapun kedengarannya, merupakan contoh dari distingsi presiden sebagai individu, dan jabatan publik.

Dalam konteks dangkal pilpres, siapapun yang menang, lagi-lagi rakyat yang kalah. Apalagi kalau wacana "merangkul semua unsur" mau dilakukan seperti Jokowi periode 2 playbook. Semua dikasi kue. pemerintahan tanpa oposisi. Demokrasi ugal-ugalan.

I am fully aware that I am previledged to write things like this. Laki-laki, orang Jawa (oh I know for sure banyak teman2 keturunan tionghoa yang SANGAT menahan diri untuk berkomentar. Ditahan oleh apa? trauma. Trauma dikorbankan dan menjadi kambing hitam. I know a friend in office who didn't come to office H+1 pilpres karena dia naik transjakarta melewati monas) belum berkeluarga, belum punya anak, tingkat ekonomi ya lumayanlah (ga perlu mikir nanti malem gimana caranya supaya bisa makan). I have nothing to lose (well kinda, Aura marah ni klo baca begini2 wkwkwk). Tapi sampai saat ini, aku masih menahan diri untuk terjun di politik praktis (who knows in the future). Doakan saja aku bisa jadi walikota Jogja 5 tahun lagi, lalu maju jadi cawapres di umur 39. Let's gooooooo. Jokes aside, mungkin sama seperti banyak dari kalian, yang sama-sama geram atas semua ini, tapi bisa apa ya? di tengah kesibukan sebagai kroco mumet mengais rejeki setiap hari. Here's what I can think of:

Fokus pada fitrah sebagai rakyat: awasi, kontrol. Kalo ada yang offside (depends on your trigger), suarakan. Lawan. Dari banyaknya respon di dm atas kejadian kemarin, aku yakin masih banyak orang yang punya akal sehat. Inilah silent majority yg sebenar-benarnya.

visi misi Prabowo - Gibran

Ini visi misi presiden kita nanti. Pelajari dengan baik, supaya bisa menagih. Jangan sampai berakhir hanya sebagai janji. Segelap-gelapnya demokrasi kita sekarang, aku masih percaya ada harapan. Sambil memelihara kegelisahan. Karena dengan memelihara kegelisahan, maka kita memelihara kehidupan.

Jakarta, 17 Februari 2024
11.36




Wednesday, January 24, 2024

Have you ever?

Have you ever

Feeling lost, but not because you don't know the direction

You know exactly where to go

But time doesn't allow you to do things right


Have you ever

Care so much about people

But you need to disappoint

Not because they are wrong

They are just not on the right timing


Have you ever

In a big, big battle

Where you, who are super confident with yourself for your whole life

Suddenly feeling small

A small speck of dust within the universe


Have you ever

In a doom loop

Where you always doesn't have time

Because everything is just too fast

Too fast, that it makes you feel dizzy

Until you need a painkiller to be asleep at night

Not because that you are not sleepy

But you really need to dampen the pain

That can explode your chest at any given moment


Have you ever

Shutting down your sense

Just to be peaceful

In doing wrong things right


Hell even if I can't be right

I don't wanna be that wrong

And I hope no one ever need to go through what i've been through


Jakarta, 24th January 2024

00.19


Sunday, January 21, 2024

Di sore itu

Di sore itu

Kita duduk di taman bunga, berdua

tempat yang asing bagiku

tapi favorit bagimu

Kamu bilang, ini tempat tidak ada yang tahu

karena cuma kamu yang punya kuncinya


Di sore itu 

Senyummu lebih indah dari biasanya

sudutnya berbeda

Aku tahu persis derajat bahagiamu, dari sudut senyuman di bibirmu

Melihatmu sebahagia itu, pundakku menjadi lebih ringan


Di sore itu

Kamu bercerita tentang segala macam bunga

Tentu aku tak mengerti

tapi mendengar orang yang menjelaskan kesukaannya

membuatku ikut bahagia


Di sore itu

Tanganmu tak berhenti menggenggam tanganku

Sangat di luar kebiasaan

Aku tak tahu itu tanggal berapa

Hari spesial apa

Tapi yang jelas, perlakuanmu begitu istimewa


Di sore itu

Kita hanya duduk

sesekali rebahan, sambil mengobrol

di ruang kosong kecil yang dikelilingi bunga melati


Di sore itu

Kamu bilang, ingin hidup bersamaku

Selamanya.

Aku hanya tersenyum sambil memandang wajahmu

Kutahu itu tak akan mudah

Tapi kalaupun tak bisa

Aku ingin mati dan dikubur di sini

Agar tetap bisa jadi bagian dari kebahagiaanmu


Jakarta, 21 Januari 2024

22.37


Thursday, December 28, 2023

Obrolan di Warung Sembako

“Kuliah di mana mas?” Kata si bapak penjual beras.

“Kula kuliah teng UI pak”, jawabku.


“Oh Jakarta nggih”, ia menimpali.


“Sampun kerja sakniki, sudah lama” sahut ibu.


“Oooo ngoten, lha niki liburan?”


“Nggih pak, liburan.”


“Tapi malam ini sudah balik ke Jakarta lagi” sahut ibu.


“Ooo sudah mau pulang lagi to.”


“Balik pak, bukan pulang. Kan pulangnya ke sini” kata ibu.


Aku dan ibu saling berpandangan, sambil sama-sama tersenyum.


Jogja, 28 Desember 2023

20.04

Saturday, December 23, 2023

Aku suka Animo

 Karena Animo terbuat dari hal-hal baik


Animo terbuat dari Sabtu pagi

Yang entah kenapa kali ini aku bangun pagi

Dan memilih untuk mandi


Animo terbuat dari sinar matahari pagi yang pertama kali bertemu kulit

Setelah melewati malam yang panjang dan gelap di depan layar


Animo terbuat dari kebebasan

Karena setelah ini aku bisa live, main game, streaming, ngulik lagu, pacaran, badminton, telfon rumah

Atau hal-hal yang yang aku sukai lainnya


Animo terbuat dari hutang budi

Karena tukang bakso di depannya

Aku jadi menemukan tempat tinggalku kini

Yang pagar depannya tidak serupa kos-kosan

Tapi ketika penjaganya muncul

Aku tahu persis

Aku bisa hidup di sini


Animo terbuat dari abon gulung

Yang kini sudah turun status konservasinya

Dulu hanya ada 2 per hari

Sekarang bisa 2 baris berjejer setiap pagi




Aku seringkali lewat di depan Animo

Di hari-hari biasa

Tapi aku tak mau mengotorinya dengan keterburu-buruanku

Biarlah itu menjadi peran Shokupan

Yang abon gulungnya lebih murah tiga ribu

Tapi lebih sering menjadi tempat berteduh

Dari tugas-tugas yang membuat kepala gaduh


Jakarta, 23 Desember 2023

09.42

Sunday, December 17, 2023

Hikayat Rajah

Dalam lifeline sharing yang pernah aku tulis, tema besar hidupku ada tiga: Ekonomi, Kebebasan & Keberagaman, dan Musik & Games. Tapi sejatinya, dari tiga ini, yang nomor dua merupakan yang pertama dan terutama. Spesifiknya, tentang agama.

Mungkin orang yang mengenalku baik (dan sudah lama), tahu betul tentang ini. Sudah sering kuceritakan juga dalam berbagai forum dan kesempatan (anjay sipaling forum), jadi tidak akan kutulis detail di sini. Intinya, aku sangat merasa relate dengan tema keberagaman agama, toleransi antar umatnya, pernikahan beda agama, dst dst. Mungkin sampai bisa sebegitunya karena topik ini yang sangat sering menjadi isu dalam kehidupan sosial sehari-hari. Padahal buatku, agama pada hakikatnya adalah ajaran baik yang dapat mempersatukan perbedaan, bukan pemisah dan pemecah-belah.

*

Sekitar tahun 2009, kelas 2 SMA, aku mulai mengenal beberapa teman yang bertato. Menurutku keren, apalagi kalau gambar atau tulisannya berkaitan dengan prinsip hidup yang kita pegang teguh. Disclaimer dulu biar ga diserang buzzer: semua kalimat yang tertulis di sini adalah opini pribadi subyektif yang berlaku dalam pandangan dan caraku melihat dunia sampai saat ini. Jadi kalo ada yg punya pendapat lain, sah-sah saja dan mungkin itu baik menurut mereka.

Nah dari kelas 2 SMA itu, aku sudah punya keinginan untuk punya tato. Cukup spesifik pula: full sleeve di tangan kiri. Gambarnya Buddha duduk di teratai, belakangnya ada gapura yg biasa ada di pura, di atasnya ada bulan bintang, dan ada rosario yang melingkari mereka. Sisanya belum kepikiran waktu itu, tapi yang pasti akan berkaitan dengan lambang-lambang agama dan kepercayaan yang ada di dunia.

Waktu berlalu, hidup terus berjalan. Aku tidak pernah memikirkannya secara serius, tapi keinginan untuk tato ini tetap ada di kepalaku. sekitar tahun 2014, aku pernah meminta kawanku Beni si bos kecil untuk menggambar sketsa sesuai yang aku bayangkan. Dia menggambar di kertas memakai pensil. Sayang gambar itu tak terlacak di mana sekarang (tidak sempat difoto pula).

*

update: ternyata ada gambarnya, aku post di twitter tahun 2013

Hidup kembali berjalan. Dari Jogja, ke Depok untuk kuliah. Lalu tak terasa, hidup membawaku ke Jakarta untuk menetap lebih lama dan bekerja di sana. Mulai bisa cari uang sendiri. Bisa menabung. Hal yang tidak pernah terjadi selama hidupku sebelum itu. Aku mencari tattoo artist yang menurutku bagus. Dan gambar yang bagus menjadi causa prima dari tato yang aku ingin buat. Alasan pertama dan terutama. Aku mendapatkan referensi dari kawan, sebuah tato studio di Kemayoran bernama @twinmonkeytattoostudio. Seketika jatuh cinta dengan karya-karya @adithsetya. Blackwork, artstyle nya didominasi garis-garis tebal dan pekat. Aku memang suka tipe tato yang gambarnya besar, banyak blok-blok hitam. Tampan dan berani. Singkat cerita, 2022 bulan April, didorong impulsifitas pandemi (coba angkat tangan yang pernah mengambil keputusan besar dalam tempo sesingkat-singkatnya pada waktu pandemi -yang mungkin kalau kondisi normal tanpa pandemi, kalian ga akan ambil), aku chat WA Twin Monkey. Ternyata flow nya adalah, kita chat dengan managernya dulu, cerita tentang konsep tato kita (letaknya di mana, gambarnya apa, seberapa besar, dll). Lalu dia akan mengarahkan ke tattoo artist yang sesuai dengan konsep yang kita usung. Aku yang awam langsung menceritakan konsep dan bilang kalau pengennya ditato oleh Adith. 

"Oh kalo Adith maunya cuma Japanese blackwork aja bro, kalo konsep lo bisa ke Nick atau Dyra," kata sang manager.

 Oh oke..... batinku dalam hati. Keren juga ni tempat. Cukup idealis. Justru malah semakin align rasanya mendengar jawaban seperti itu. Segeralah aku mengintip ig @nickfilbert untuk memilih gambar referensi. Wah keren juga, style nya sesuai dengan yang aku mau. Ternyata beliau juga adalah ilustrator design sampul buku Harry Potter yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ketika scrolling ig nya, ada satu gambar Bunda Maria yang menarik perhatianku. Tidak persis sama dengan konsepku, tapi rasanya cukup menggambarkan, karena itu gambar portrait Bunda Maria yang dibalut dengan ornamentasi yang keren. Setelah memilih gambar referensi, Riva sang manager ini menyebutkan perkiraan berapa jam total pengerjaan dan estimasi biaya, lalu akan membuat walk in appointment untuk konsultasi langsung dengan tattoo artistnya. Harus datang langsung, gabisa zoom. Aku mengiyakan untuk datang seminggu setelahnya untuk berkonsultasi dengan Nick. Konsultasi hanya berlangsung sekitar 15 menit, diantara sesi yang sedang dikerjakan oleh para artist. Meski cuma ngobrol sebentar, I knew Nick was the right guy from the start

"Gw suka banget bro sama konsep lo, menurut gw idenya keren banget."

Aku jadi tahu kenapa proses konsultasi dengan datang langsung ini begitu penting buat mereka. Karena relasinya juga harus oke. Ini tentang keputusan hidup yang akan dibawa mati. Nick melihat lengan kiriku, coret-coret sedikit dengan spidol untuk membayangkan layoutnya. Aku menambahkan satu frasa tulisan jawa dalam konsepku:

ꦯꦺꦗꦠꦶꦤꦺꦌꦱ

Sejatine Esa

Nick bertanya, "ini artinya apa bro?" setelah kujelaskan, dia makin semangat. "Wah keren banget, nanti gw bikinin sketsanya, lo akan liat hari H ya." Jadi ternyata kita hanya akan lihat gambarnya pada hari H, bisa revisi minor di tempat. Karena aku baru pertama kali tato, Nick juga menjelaskan do & dont's nya: H-1 harus tidur cukup, no alkohol karena akan mengencerkan darah dan berpotensi membuat bleeding sehingga tinta tato akan susah masuk. Stamina juga harus fit, karena kurang lebih aku harus menahan rasa sakit selama sekitar 7 jam tiap sesinya. Oke baik. Mendengar ini agak takut tapi keinginan untuk tato mengalahkan rasa takut itu.

Selesai konsultasi, Riva menjelaskan, next step nya adalah transfer booking fee untuk mengunci tanggal tato. Karena durasi total tatoku maksimal 14 jam, jadwalnya akan dibagi 2 sesi. Dia menyebutkan tanggal di akhir Agustus dan awal September untuk sesi keduanya. Selisih 2 minggu. Aku mengiyakan dan segera transfer booking fee. Sebenarnya agak kecewa karena ternyata waiting list nya selama itu. Waktu yang cukup lama untuk membuat kita berpikir ulang dan mlintir. Hahaha. 

Sampai akhirnya waktunya tiba.

*

Akhir Agustus 2022, aku datang siang ditemani oleh kawanku Beni si bos kecil dan Jati, yang selain karena excited ada temannya yang akan tato, juga untuk jaga-jaga kalau aku pingsan. For context: aku takut jarum dan darah. Waktu kuliah pernah iseng donor darah sehabis kelas siang karena mengincar snack dan susu, tapi malah pandangan menyempit dan hampir pingsan (malah ngrepotin susternya wkwk). Begitu datang, kami makan dulu untuk mengisi perut. Studio tato mereka bentuknya ruko, dan di lantai dasarnya ada warung bakmi. Bakmi babi enak bgt kacau.


Setelah makan, kami naik ke lantai 3 tempat studionya berada. Nick datang dan menunjukkan stensil dan respon pertamaku dalam hati "wow gede banget yh ternyata.." tapi keren banget parah. Dia lalu mengukurnya ke lengan kiriku, lalu menyiapkan alat2nya. Ternyata tatoku terdiri dari 2 stensil berbeda. Gambar Buddha di bawah untuk lengan bagian luar yang akan dikerjakan di hari ini, lalu salib dan rosario untuk lengan dalam yang akan dikerjakan di sesi 2 nanti.

OG stencil

Selama ini aku banyak bertanya ke orang-orang yang tatoan: "Sakit ga sih tato?" dan kebanyakan dari mereka bilang sakit, tapi pain tolerance orang beda-beda. Tapi susah dijelaskan juga sih sakitnya seperti apa. Dan benar, you don't know how, until the needle finally meet your skin. Beruntungnya buatku, ternyata sakitnya sangat manageable (lengan dalam beda cerita ya, apalagi deket ketiak. ngilu bayanginnya). Nick yang sudah kuceritakan disclaimerku memastikan sesaat setelah garis pertama diselesaikan.

"Gimana Yok, aman ya?"

"Aman banget," sahutku.

Dimulailah perjalanan panjang hari itu -yang surprisingly tidak terasa selama itu. Kami menghabiskan waktu sambil ngobrol. Nick bertanya padaku, kenapa konsepnya bisa gini, aku punya cerita apa. Setelah kuceritakan, ternyata dia bisa relate dengan itu. Ia juga menceritakan background hidupnya, yang tadinya adalah seorang ilustrator, lalu berpindah haluan menjadi tattoo artist. Tentang keresahannya bahwa banyak orang sekarang bertato hanya karena fomo. Serta bagaimana susahnya mencari aprentice yang suka menggambar tapi belum pernah menyentuh alat tato. Katanya kalau orang sudah pernah nato, banyak yang kemudian berhenti untuk studying the craft itself. Kalo udah gambar di kulit, gamau lagi gambar di kertas. Padahal menurut mereka, kulit hanyalah medium saja. Craftmanship nya harus terus diasah. Aku jadi makin kagum. Proses apprenticeship di Twin Monkey seserius itu, untuk bisa meneruskan value yang mereka percaya sebagai artist.

Tidak terasa 6 jam sudah berlalu, dan Nick menyudahi sesi pertama ini. Sisanya dia hanya memberi outline untuk kemudian diselesaikan di sesi kedua nanti. Bagaimana keadaanku? surprisingly baik-baik saja. Malah agak tidak rela bahwa sesi pertama disudahi di sini. Hahaha. Super excited. Tidak sabar untuk datang ke sini 2 minggu lagi.

*

Satu detil penting yang kulupakan adalah pose tangan sang Buddha. Nick tau-tau come up dengan pose itu dan aku lupa untuk riset dulu. Apa artinya? Adakah pose tangan Buddha yang lain, yang mungkin lebih relate secara filosofis dengan konsepku? Semuanya terkalahkan oleh excitement tato pertama. Hahaha.



Tapi untungnya, semesta memang selalu punya cara. Malamnya aku googling, ternyata pose ini namanya vitarka mudra. Pose that simbolize debate & discussion. Juga melambangkan infinite flow of information, dan bagaimana Buddha menyampaikan ajarannya. Pose ini merupakan salah satu pose yang paling populer ketika Buddha digambarkan.

BEST. Ga ada yang lebih pas buatku daripada pose ini.





hasil sesi 1

2 minggu berlalu, hari yang dinanti pun kembali tiba. Kali ini aku datang sendiri. Kami start lebih awal sekitar jam 11.30 untuk memastikan bahwa keseluruhan project bisa selesai hari ini juga. Tanpa basa-basi kami langsung ambil posisi dan mesin tato segera dinyalakan. Kali ini total 8 jam. Yang berbeda adalah, seperti yang kuceritakan di atas, sesi 2 ini mengerjakan lengan dalam, yang ternyata JAUH LEBIH SAKIT daripada lengan luar. Katanya karena kulit di lengan dalam lapisannya lebih tipis daripada yang luar. Apalagi yang dekat ketiak, itu benar-benar seperti diiris pisau. Perih bro. Masuk jam kelima, Nick berkata,

"wah berdarah bro."

Aku diam sebentar sebelum menyahut, udah takut disuruh pulang dan nunggu 4 bulan lagi untuk menyelesaikan T.T

Tapi dia bilang oke kalau aku oke, dan akhirnya proses tetap dilanjutkan. The last 2 hours was surreal for me. Capek, sakit, kesemutan di sana-sini karena ngga gerak selama 8 jam. Nick pun sama. Lebih berat bahkan, karena dia pake mikir. Dan bertanggung jawab sama hasilnya nanti.

But we push through.

first selfie with completed half-sleeve

Jam menunjukkan sekitar 9 malam. Kami adalah orang terakhir yang tersisa di studio. Masih ingat persis perasaan saat mengambil foto di atas. KEREN BANGET. Merasa menjadi orang paling keren di dunia. Setelah menyelesaikan administrasi dan mengucapkan terima kasih ke Nick, akupun pulang dengan hati yang penuh. Akhirnya gambar yang kurang lebih 13 tahun ada di kepalaku, sekarang ada di tanganku. Dalam bentuk terbaiknya.

*

Satu hal yang harus kuceritakan di sini juga adalah: proses recovery. Ternyata dalam hal ini, aku tipe orang yang kuat di eksekusi, tapi lemah di recovery. Jadi proses tato itu kan melukai kulit ya. Analoginya yang diceritakan Nick padaku di awal adalah seperti kalau kita kecelakaan motor. Bisa jadi lukanya hanya lecet, tapi karena badan kita trauma, kemudian sakit sebadan. Bisa meriang juga. Lecetnya nanti jadi koreng, lalu setelah kulitnya mengelupas, baru akan sembuh. Nah tato persis seperti itu. Pegal-pegal dan meriang itu adalah mekanisme tubuh untuk memproses trauma yang mereka alami. Kasusku, malam pertama setelah tato aku meriang. Mungkin karena ini tato pertama tapi sebesar itu, jadi badanku mungkin "kaget" menerima luka sebesar itu tiba-tiba.

fresh blood from session 2


Setelah fase sakit dan meriang ini timbullah hal paling menyiksa dari keseluruhan proses ini. Proses tato yang jadi koreng lalu mengelupas itu gatel bangetttttt. Parah. Tanganmu kayak disemutin bro. Gatelnya itu aktif. Apalagi malem sebelum tidur. Dan yang lebih memperumit keadaan adalah: ga boleh digaruk, karena kalau dia mengelupas sebelum waktunya, bisa jadi tintanya ikut keluar dan gambarnya rusak. Jadilah fase ini kunobatkan sebagai 2 minggu tergatel dalam hidupku. Sering kali aku terbangun di tengah malam karena rasa gatal yang teramat sangat.

proses recovery, liat gambarnya aja gatel

*

Setelah semua proses itu dilewati, baru benar-benar puas. Tato ternyata memaksaku untuk "berkenalan" dengan tubuhku sendiri. Seberapa jauh batas sakit yang bisa diterima, sampai pada proses pemulihannya.

Vitarka mudra ternyata juga menjadi konsep sentral yang sangat berarti buatku. Karena salah satu alasan aku ingin tato dengan gambar seperti ini, supaya ia bisa berfungsi sebagai discussion trigger. Aku sangat senang ngobrol dengan orang membicarakan tema-tema seperti ini (religiusitas, keberagaman agama, toleransi). Tapi aku sadar, tidak semua orang bisa diajak berbicara topik seperti ini. Dengan adanya tato ini, seringkali orang yang melihat akan tertarik dan kemudian bertanya "eh itu tato apa? bagus deh" and the rest is history.

Satu hal lagi, meski banyak orang di circle terdekatku juga radikal tentang tema-tema ini, tapi aku tetap tidak merasa ada orang yang ada di titik keresahan yang sama denganku. Jadi seringkali di tengah keluarga, sahabat, pacar, aku tetap merasa sendiri.

"ngapain sih sengotot itu."

"hidup jangan seideal itu lah brodi, capek."

..dan banyak kalimat lain yang seringkali membuatku merasa sendirian.

And to be honest, sometimes being lonely is.. sucks.

Tapi bukankah itulah definisi iman yang sebenar-benarnya? Ketika kamu bisa tetap berpegang teguh pada hal yang kamu yakini benar. To be able to hold your stance, even when the whole world is against you.

Now that I have this, I feel like I'm not alone anymore.



Jakarta, 17 Desember 2023
13.59